Selasa, 22 Mei 2018

Januari 1998

Pada Januari 1998 Ia tinggal tidak jauh dari kosan tempat kamu mengiba pada induk semangmu untuk dapat membayar tagihan bulan kemarin dan bulan ini pada bulan depan

Ia tinggal di dalam gang sempit, beberapa puluh meter dari warung nasi tempat kamu biasa sarapan lalu membayar hanya dengan senyum dan ucapan terima kasih sungguh-sungguh.

Ia berandai-andai apakah ia akan bertemu denganmu tak sengaja suatu ketika

Dan di dalam kepalanya ia siapkan cerita-cerita yang lebih masuk akal tentang kenapa ia berada disini. 

Ia mencoba membayangkan apa yang kamu bayangkan pada setiap langkah yang kamu ambil pulang tengah malam setengah mengantuk menuju kamarmu sebelum kamu tertidur pulas dan terbangun pada suatu pagi

Dan sampai bulan-bulan yang ia duga tak pernah akan tiba padamu akhirnya ia pasrah juga bahwa kamu telah pergi ke suatu mana. 

Dan ia akan membungkus tiga stel pakaiannya dan mengejar bayanganmu yang masih tersisa lekat-lekat di gapura selamat datang

Hampir puisi

Aku melihatmu duduk di bawah air mancur membayangkan menuliskan surat untukku yang akan kubalas secepat aku membacanya. 

Dan kamu akan bicara bahwa kamu lelah. Kita semua lelah. Tapi kamu menuliskannya dengan jauh lebih cantik. 

Dan hidup kadang membuatmu terasa seperti ini saja tapi kalimat-kalimat tafsiranmu membuatku merasa iri dengan ujung jemarimu karena dikendalikan imajinasimu. 

Tapi surat balasanmu tak pernah tiba. Kukira ia terhimpit di dalam tumpukan tas tukang pos yang akhirnya merasa sudah cukup muak mengantarkan rindu dan tipu orang-orang tak pernah habis. Aku tak terlalu yakin. 

Jadi takkan pernah sempat kita bertemu. Karena itulah takkan sempat pula aku mematahkan harimu atau sebaliknya. Mungkin lebih baik begini. 

Pantura

Apa yang kamu ketahui, ia mencoba mengingat tentang 
kata
kata
yang menyeruak tidak tahu malu saat ia sedang duduk
sendiri
di dalam bus di jalur pantura

Sebelum mendadak ia sudah tertidur di dalam masjid Demak memikirkan tentang
Masa lalu
dan dirinya
saat ini. 

Ia tak ingin kemana-mana saat bus menuju Demak membujuknya untuk pergi. Tapi toh ia ternyata naik juga 
Memperhatikan orang-orang yang berbicara tentang banyak hal kecuali tentang kota yang ditinggalkannya dan yang akan hendak ditujunya. 

Membuatnya sedikit mengira-ngira apakah ia benar-benar ingin pergi? 
Ataukah ia ingin tinggal selamanya di kota ta g sama. 

Dan saat bus berjalan pergi 
Ia akan berpura-pura tertidur
Sembari diam-diam menghitung pada putaran roda keberapa ia benar-benar sudah tertidur.