Selasa, 15 Desember 2015

25

25 tahun lagi aku akan lebih tua dari usiamu, Ibu, karena kamu akan seusiamu selamanya.

Anakmu kini 25 tahun awal bulan Desember tahun ini dan ia tak pernah yakin bahwa benar-benar sudah 25 tahun. 
Ia merindukanmu masuk diam-diam ke kamarnya setiap tahun dengan membawa kue dan hadiah. 
Setiap tahun ia berpura-pura terkejut, setiap tahun pula ia tak pernah berpura-pura bahagia. 

Ia benar-benar bahagia. 
Ia benar-benar merindukanmu. 

Jadi ibuku sayang, ibuku yang cantik, ibuku yang... 

Aku selalu berandai-andai bahwa Tuhan ingin mencabut nyawamu ketika kamu sedang cantik-cantiknya. Dan jika itu memang benar, maka Ia tepat mencabut nyawamu saat itu, kamu tak tahu betapa cantiknya kamu saat itu. 

Tapi Ia tak pernah dengan baik menjelaskan padaku harus bagaimana aku merindukanmu dengan rindu yang serindu-rindunya?

Ibu, aku ingin menangis dipangkuanmu

Jadi kalau aku menulis

Jadi kalau aku masih diperlukan untuk menulis puisi tentang seseorang yang pernah ada dan tak pernah ada dalam waktu yang sama, maka kamu bisa menikmati dengan baik puisi yang aku tulis ini. 

Apakah rembulan malam ini mendadak menjadi dua? Aku bertanya. 

Lalu aku sadar bahwa puisiku tak pernah bercerita dengan baik. Lebih jauh lagi,  puisi mana yang mampu bercerita dengan baik? 

Jadi kalau aku sudah tak memerlukan lagi untuk menulis tentang seseorang yang tak pernah ada, maka puisi ini akan menceritakannya dengan teramat baik. 

Dengan asumsi semacam itu aku menulis. Jadi mohon maaf jika tak ada yang bisa menikmati puisiku saat ini. Aku bahkan tak bisa menikmatinya. 

Karena aku tak perlu kemana-mana, suaraku akan terdengar jauh di ribuan kilometer bersahut-sahutan dengan suara azan subuh yang membuatmu enggan meninggalkan kasur. 

Ada yang bilang puisiku bukan puisi. Aku setuju. 
Ada yang bilang puisiku serupa prosa. Aku tak setuju. 
Aku tak tahu beda puisi dan prosa, sungguh. 

Apakah ada tempat yang paling kamu sukai dari kota ini, Tuan? 
Aku tak tahu. Aku selalu menyukai beranda, aku bisa tinggal dimana saja jika ada beranda dan segelas kopi. 

Aku bisa berada Dimana mana jika ada beranda dan segelas kopi. 

Tapi karena malam ini aku harus tertidur cepat, hanya ada aku, beranda,  dan segelas susu kacang kedelai malam ini

Terakhir kali(mu/ku) menangis

Aku tak ingat kapan terakhir kalimu menangis dan mau tak mau aku memikirkannya sekarang saat bibirmu mulai bergetar, matamu berpendar merah dan pundakmu naik turun. 

Saat air matamu tak juga turun pula akhirnya aku sadar kamu mencoba setengah mampus untuk menahan tangismu, pikiranku malah semakin menjadi-jadi mencari di sela-sela memori tentang kapan terakhir kali aku melihatmu menangis. 

Lalu saat kamu berputar menunjukkan rambut indah dan matahari pelan-pelan turun di depan wajahmu menyisakan bayanganmu yang perlahan-lahan memanjang seiring langkah yang kamu ambil menjauhiku yang sedari tadi hanya diam saja mencoba mengingat kapan terakhir kali aku melihatmu menangis, mendadak yang ada dipikiranku adalah kapan terakhir kali kamu melihatku menangis. 

Rabu, 09 Desember 2015

Puisi dan kata ulang berkali-kali

Akan ada Tuhan di setiap-setiap perempatan dan lampu kota yang kamu lewati setiap malam-malam tadi, entah kamu ingin atau tidak
dan kamu pada akhirnya mau tak mau harus pulang juga, kan? 

Tidak penting bagaimana kita bertemu karena pada akhirnya toh kita bertemu juga. Jadi bagaimana kabarmu, masihkah kamu bertinju setiap kali jemarimu tertekuk dan tanganmu terkepal? 
Masih adakah asap motor di sela-sela alveoli mu? 
Masih adakah rindu tentang diriku samar-samar tersimpan dalam sinapsis neuronmu? 

Apakah puisi ini terlalu fiksi ataukah terlalu ilmiah?
Ataukah aku sudah semakin tak mahir lagi berpuisi?
Atau aku sudah tak mahir lagi menjadi aku? 

Lalu aku mencoba mengingat bagaimana biasanya aku mengakhiri puisi:
Pertanyaan? 
Kalimat ambigu? 
Titik? 

Lalu apakah puisi ini masih berupa puisi? 
Apakah cerita dariku masih pantas didengar? 

Apa aku bisa mendengar suaramu? 

Aku rasa puisi bertelinga makanya ia bisa mendengar isak tangismu subuh-subuh 1263 malam yang lalu. 
Tapi puisi tak pernah punya hati, sungguh tidak. Ia tak pernah melanjutkan tangisan itu kepada siapa-siapa. 

Ia biarkan tangisanmu menjelma menjadi aksara, titik dan koma. Lalu begitu saja, ia tak kemana-mana. 

Bisa jadi puisi malam ini serupa dengan puisi-puisi pada malam seperti itu, aku tak yakin. 
Bisa jadi puisi ini adalah puisi baru yang baru akan menemui teman-temannya 1000 tahun lagi, aku tak tahu. 

Atau bisa jadi puisi ini hanya menjadi puisi yang sekedar puisi. 

Aku tak tahu,
aku tak tahu. 

Terima kasih

Kamis, 03 Desember 2015

Sebuah puisi panjang

Apakah kalau malam nanti kuberi tahu tentang suatu rahasia bahwa sebenarnya puisi-puisiku adalah satu buah puisi panjang kamu masih akan membaca puisi-puisiku lagi? 

Namun jika kamu tidak berkenan, kamu masih bisa membaca puisi-puisiku satu persatu