Rabu, 25 November 2015

Tertidur di beranda

Aku hampir tertidur di beranda, 
semalam. 

Dibawah awan yang perlahan-lahan berjalan dan sinar rembulan yang lembut-lembut menghilang.

Jadi apa kabarmu malam ini? 

Aku ingat kabarmu beberapa ratus malam lalu, aku ingat kamu baik-baik saja. Tapi apa yang sebenarnya aku tahu, Sayang? 

Mana aku tahu jika pada ratusan malam berikutnya (hari ini)  aku baru tahu bahwa kamu tak pernah baik-baik saja beberapa ratus malam yang lalu. 

Aku bayangkan kamu seperti aku saat ini pada malam-malam yang lalu:
Duduk sendiri di beranda, melihat awan dan mendengar lagu. 

Sudah, begitu. 

Aku bayangkan kamu tiba dan memelukku yang setengah tertidur diam-diam.

Dan aku tak perlu terbangun. Lalu kamu tak perlu sadar bahwa kamu adalah bagian dari mimpiku. 

Jadi tolong terima permintaan maaf lelaki pecundang ini untuk masa lalu. 
untuk masa depan yang tak pernah ada,
dan untuk masa kini di beranda. 

Senin, 16 November 2015

Tentang Bangkok

Beberapa saat setelah mendarat di Bangkok, aku bertanya pelan dalam hati:
"Apakah di paru-paruku masih tersisa udara dari Shanghai?"

Lalu aku diam saja dibawa taksi dari bandara menuju hotel. Pengemudi yang baik susah payah bertanya apakah aku berasal dari Thailand, aku menggeleng.

"Same-same." ujarnya sambil meraba wajahnya lalu menunjuk wajahku. Aku tertawa,

"Indonesia." jawabku. Ia mengangguk.

"Aya-aya-aya."

Ada yang berkata bahwa kamu akan jatuh cinta pada Bangkok. Mungkin. Tapi bisa sejatuh cinta apa aku pada kota ini jika aku sudah jatuh cinta kepada Jakarta terlebih dahulu?

Senin, 09 November 2015

Beberapa belas

Kota ini tak pernah cukup besar  hingga membutuhkan Bus
jadi kita bisa berjalan berdua saja dan hanya akan habis beberapa belas menit untuk menghabiskan perjalanan dari gerbang kota sampai tugu ucapan selamat jalan.

"Kalau salah satu dari kita pergi dan kemudian kembali, aku harap yang tetap disini akan menunggu di gerbang kota dan mengajak yang kembali untuk berjalan lagi." ujarku.

Kamu mengangguk,
lalu begitu saja sudah beberapa belas tahun sejak kamu pergi meninggalkan kota ini.
Aku masih saja disini,
berjalan perlahan di beberapa sore dalam sebulan.

Lalu ketika kabar kamu akan kembali ke kota tersebar dari penjuru, aku mau tak mau turut gembira juga. Kubayangkan kamu akan kembali dan kita bisa menghabiskan waktu lebih dari beberapa belas menit untuk menghabiskan jalanan kota sekedar membicarakan tentang beberapa belas tahun yang telah kau tinggalkan di kota ini.

Sayang kini sudah ada orang lain yang mengajakmu berjalan di kota kita selama beberapa belas menit.

Jumat, 06 November 2015

Pagi di Shanghai

Pagi di Shanghai mengingatkanmu pada pagi-pagi lain yang kamu lalui di kota-kota lainnya.

Akan selalu ada lampu jalan yang masih menyala, 
jalanan, 
aroma perkotaan di kejauhan, 
manusia. 
Semua. 

Aku tak akan pernah sempat menceritakan tentang orang-orang yang tampak terburu-buru menuju sesuatu,
lelaki tua setengah mabuk tertidur di naungi apartemen, 
dan burung yang bernyanyi malu-malu. 

Kota manapun akan selalu mempunyai ceritanya sendiri tapi pada akhirnya cerita tentang kota akan selalu cerita tentang manusia. Selalu manusia. 

Dan di Shanghai? Dengan orang sebanyak ini entah berapa banyak cerita yang bisa kamu temukan. 
Dan kalau Tuhan benar-benar menyukai cerita maka Tuhan  akan benar-benar menyukai Shanghai 

Rabu, 04 November 2015

Gerimis di Shanghai

Kamu tak tahu kapan akan tiba di Shanghai lagi tapi kamu benar-benar yakin bahwa gerimis di Shanghai akan selalu siap menyambutmu kembali. 

"Hujan di Shanghai selalu begini. Gerimis perlahan namun bisa bertahan berjam-jam. Bagaimana hujan di kotamu?"

"Biasa saja." Aku mengangkat bahu. "Lebat sesaat terus hilang dalam sekejap." 

"Aku suka hujan seperti itu." Ujarmu. 

"Mungkin kita hanya akan benar-benar suka yang tak pernah kita pernah miliki?"

Mungkin. 

Mungkin