semalam.
Dibawah awan yang perlahan-lahan berjalan dan sinar rembulan yang lembut-lembut menghilang.
Jadi apa kabarmu malam ini?
Aku ingat kabarmu beberapa ratus malam lalu, aku ingat kamu baik-baik saja. Tapi apa yang sebenarnya aku tahu, Sayang?
Mana aku tahu jika pada ratusan malam berikutnya (hari ini) aku baru tahu bahwa kamu tak pernah baik-baik saja beberapa ratus malam yang lalu.
Aku bayangkan kamu seperti aku saat ini pada malam-malam yang lalu:
Duduk sendiri di beranda, melihat awan dan mendengar lagu.
Sudah, begitu.
Aku bayangkan kamu tiba dan memelukku yang setengah tertidur diam-diam.
Dan aku tak perlu terbangun. Lalu kamu tak perlu sadar bahwa kamu adalah bagian dari mimpiku.
Jadi tolong terima permintaan maaf lelaki pecundang ini untuk masa lalu.
untuk masa depan yang tak pernah ada,
dan untuk masa kini di beranda.