Kelak jalan akan terasa panjang tak berujung dan membuatmu tak sempat berpikir sejak kapan kita melangkah sendiri-sendiri. Tapi kamu, aku, kita, masih tetap akan memiliki kenangan di taman sore itu. |
Kamis, 30 April 2015
Jalan panjang tak berujung
Minggu, 26 April 2015
Ikatan
Lalu kamu belenggu tanganku,
"Ikatan di tanganku.." ujarku.
Aku menatap wajahmu, kamu membalas menatap wajahku. Cuaca cerah, bola matam berpendar. Aku ingat tentang sore itu dan tentang ucapanku.
"...lepaskan," lanjutku.
Kamu hanya tertawa
"Ikatan di tanganku.." ujarku.
Aku menatap wajahmu, kamu membalas menatap wajahku. Cuaca cerah, bola matam berpendar. Aku ingat tentang sore itu dan tentang ucapanku.
"...lepaskan," lanjutku.
Kamu hanya tertawa
Selasa, 14 April 2015
? Jalan pulang
Puisi macam apa yang diawali tanda tanya?
Tapi kupikir-pikir lagi, orang tidak gila mana yang masih saja suka duduk dan menulis sendiri?
Jadi orang tidak gila ini masih saja menulis, walau puisi diawali dengan tanda tanya dan kata-kata: "Jalan Pulang" yang menjadi judul tidak bermakna apa-apa.
Tidak ada cerita tentang orang yang pulang, tidak ada cerita tentang jalanan. Kata-kata jalan pulang berulang muncul tapi tak menjelaskan apa-apa.
Apa yang kamu harapkan muncul dari puisi seorang yang tidak gila?
|
Taksi
Taksi yang kini membawamu menembus jalan raya adalah taxi yang sama yang membawa ibumu ke rumah sakit dulu.
"Aku ingat saat kamu masih belum ada, " ujar supir taxi.
"Aku ingat erangan ibumu, Plat mobil terakhir yang aku temui dan berapa lama lampu merah di perempatan terakhir sebelum ke rumah sakit menyala. "
"Semuanya," ujarnya lagi.
Aku diam. Mana mungkin seseorang mengingat tentang yang tak pernah ada? Pikirku.
"Tapi aku ingat tentang alam semesta, bukan? "
Sayang aku tak benar-benar ingat siapa yang mengucapkan kalimat terakhir itu
|
Kamis, 09 April 2015
Ibuku penjual koran
Ibuku penjual koran.
Ia tak pernah memiliki berita, ia hanya menjual kata-kata.
Hari ini ia jual berita, judul utamanya mencekam:
"BEGAL JALANAN MEMAKAN KORBAN",
kemarin lagi beritanya lebih menyedihkan lagi,
"300 ORANG MATI DITERJANG BANJIR BANDANG"
Berita-berita itu milik orang kaya, ujarnya padaku suatu hari. Aku menatap wajahnya kemudian bertanya,
"Apa kita serupa burung bangkai, Bu? Bisa hidup atas kemalangan orang lain? Bisa makan karena menjual kemalangan orang?"
Ibu tersenyum. Hanya tersenyum. Ia memelukku dan samar-samar aku bisa mendengarnya berkata,
"Manusia mana yang tidak memakan manusia lain, Nak?"
Ia tak pernah memiliki berita, ia hanya menjual kata-kata.
Hari ini ia jual berita, judul utamanya mencekam:
"BEGAL JALANAN MEMAKAN KORBAN",
kemarin lagi beritanya lebih menyedihkan lagi,
"300 ORANG MATI DITERJANG BANJIR BANDANG"
Berita-berita itu milik orang kaya, ujarnya padaku suatu hari. Aku menatap wajahnya kemudian bertanya,
"Apa kita serupa burung bangkai, Bu? Bisa hidup atas kemalangan orang lain? Bisa makan karena menjual kemalangan orang?"
Ibu tersenyum. Hanya tersenyum. Ia memelukku dan samar-samar aku bisa mendengarnya berkata,
"Manusia mana yang tidak memakan manusia lain, Nak?"
Terakhir menulis puisi
Aku tak ingat kapan terakhir aku menulis puisi dan tentang apa.
Aku hanya ingat tentang malam dan tenang,
dan bulan dan bintang.
(Dan huruf, kata, dan kalimat)
Aku hanya ingat tentang malam dan tenang,
dan bulan dan bintang.
(Dan huruf, kata, dan kalimat)
Langganan:
Postingan (Atom)