Selasa, 13 Mei 2014

Di Apotek

Di Apotek sore itu apoteker sibuk meracik obat dibalik kelambu,
"Bagaimana dengan batuk dan flu?"
Sodor seorang tiba-tiba.

Apoteker tersenyum,
"Silakan minum obat biru setiap sebelum makan dan merah sebelum tidur. Mudah-mudahan aku tak bertemu tuan sampai beberapa waktu."

Aku ragu, kemudian bertanya pelan,
"Bagaimana dengan rindu? Apakah anda memiliki obat yang jitu?"

Ia membalas pelan,
"Aih Tuan! Berkali-kali kudengar pertanyaan itu dan Tuan tepat orang keseribu yang bertanya begitu. Sayang aku tak punya obat untuk rindu. Tapi obat paling jitu untuk rindu adalah bertemu. Sudah, begitu."

Aku tersenyum kemudian pergi. Jadi jangan kaget jika tiba-tiba malam nanti aku mengetuk pelan pintu rumahmu

Sabtu, 10 Mei 2014

Mari kita pulang

Mari kita pulang,
lalu menyeduh teh.

Dan benar-benar pulang

Selasa, 06 Mei 2014

Meronce

Lalu mengapa pula kamu masih duduk di halaman, memandang taman dan menggumam rindu?

Selamat pagi. Aku harap kamu ada di rumah saat ini. Kadang aku teramat muak dengan nada panggil teleponmu dan pikiran yang melumat perasaan.

Waktu itu pukul satu. Kamu mungkin tertidur di kamar atau sibuk meronce duka.

Saat itu aku sedang pulang, sungguh. Untuk apa aku berduka? Lalu matahari serupa peluru, sayang cahaya tak mampu membunuh manusia.

Lalu mengapa pula kamu masih duduk di halaman, memandang taman dan menggumam rindu?