Jumat, 06 Desember 2013

Tuan Desember

Seharusnya kami tak pergi dan diam-diam berpuisi.
Tapi mau bagainananana
lagi.

Ia tak bertanduk; jadi ia tak perlu berandai-andai seperti apa tidak bertandu. Tapi perlu juga ia berpikir apa yang terjadi andaikan di pertigaan terakhir motor vespa biru itu tak sempat menyerempetnya.

Ah Tuhan. Otaknya terlalu lelah. Bukankah Engkau sudah menciptakan bulan ini untuknya? Dan tulang rusuknya? Dan tulang rusuknya?

Ia tak perlu menulis puisi yang indah. Puisinya menulis sendiri ceritsnys untuknya. Dan saat kepalanya berada diantara jemari bukankah pada saat yang sama bola matanya berkelahi pelan di antara kuku-kukunya?

Dan k/walau nantinya ia tutup puisi ini dengsn kata-kata yang teramat buruk, bukan karena ia benci bulan ini. Tapi karena ia adalah bulan ini.

Lima

Tidak ada komentar:

Posting Komentar