Rabu, 13 November 2013

Sesekali

Sesekali masih sempat ia untuk duduk sendiri dan membuang senyum.
Dan karena memang hidupnya selalu baik-baik saja, ia merasa perlu untuk tidak peduli dan membakar segila.

Ia biarkan asap berterbangan di udara dan ingatannya mengembara sembunyi-bunyi di bawah awan.
Ia tak terkutuk. Tapi tak ada alasan untuk sesekali tak mengutuk, kan?

Jumat, 08 November 2013

Sedangkan

Sedangkan kamu menjelma kata diawal puisi ini, aku hilang menjadi jalan berbatu
yang kau lewati terkantuk-kantuk saat kamu berkelana sebentar.

Dan jalan tak juga habis sementara matahari pwrlahan-lahan mengambil gelap.

Sejak semula sudah kuambil tangismu, air matamu dan senyummu. Ia menjelma menjadi sedu-sedan di hari rabu. Lalu nanti kita akan bertemu. Mungkin di hari sabtu. Atau mungkin minggu

Sabtu, 02 November 2013

Lampu dan waktu

Pada malam serupa ini biasanya saya suduk di halaman sambil memperhatikan lampu jalan.
Mungkin ia sedang diam saja, mungkin ia akan pelan-pelan berubah redup. Atau saja jika mungkin dan diijinkan ia akan berpikir tentang kapan ia akan padam tanpa pernah tepat mengerti apa itu waktu

Saya benar-benar minta maaf untuk puisi kali ini

Ia tak lagi menulis puisi. Otaknya sudah dipenuhi kabel-kabel dan aliran listrik.
Sedang udara diam-diam menjadi penghantar yang baik.
Sedang paru-paru, jantung dan hati menjelma menjad kristal yang baik