Minggu, 22 September 2013

Karena aku harus pulang

karena aku harus pulang makanya kamu bisa hidangkan rindu diatas meja
sedang rinduku akan ku hias baik baik (ia tak pernah kemana-mana)

ia akan sembunyi pelan-pelan jika nanti kita sudah bertemu.
(Mungkin)

Sepele

Untuk apa pulang jika kita tak pernah merasa di rumah?
Lalu untuk apa pergi jika kita tak pernah ingin kembali?
Petanyaan terakhir adalah tentang ada dimana kah kita saat mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan sepele ini?

Senin, 16 September 2013

Selamat datang di kepalanya

Selamat datang di kepalamu, bukankah kamu asing disini?
Beberapa hal serupa pikiranmu masih saja suka berlari liar, jadi kamu tak tahu harus apa. Aku mengerti.

Kamu bisa saja menuang teh dan menggigit biskuit. Tapi kamu tak tahu harus kau apakan lagi ragu.
Lalu kau mulai mengaduk sagu tapi sebenarnya kamu yakin betul bahwa jam 7 malam adalah waktu paling tepat untuk pulang ke rumah.

Lalu apalagi yang bisa dilakukan jika memang kendara sudah tiada. Kamu berjanji, benar kamu berjanji. Omong kosong sebenarnya jika kamu masih membiarkannya menunggu.

Tepat saat meihatmu bencinya musnah dan membuatnya yakin benci padamu tak pernah ada. Andai kamu sempat dengar doa-doanya yang selalu diselipkannya setiap malam.

Dalam hatinya tentu saja ia tak pernah tahu apa lagi isi kepalanya. Tapi ia ingin kepalanya mengganti hatimu hingga tak ada yang perlu dipikirkannya selain menghidupimu dengan pikirannya.

Karena bukankah rindunya padamu adalah rindu yang indah?
Tak perlu ada yang dibuat-buat, sayang kamu harus pulang semalam.
Tak sempatkamu saksikan hujan yang diciptakannya semalam. Tapi ia sempat bersyukur kamu menikmati pelangi yang tergelincir dari bola matanya.

Dan dari setiap bibirnya keluar kata-kata serupa mantra. Dan dari kupingnya keluar cahaya beraroma badai. Jadi ia mau tak mau berandai-andai pula kenapa kamu enggan duduk sekedar sebentar bersamanya disini.

Yakin benar ia tak bisa menjajikanmu selendang sutra. Pikirnya cintanya sudah menyelubungimu penuh dan tak perlu lagi hadir diantara mereka.

Bukankah cintanya sudah membakar sedemikan rupa?

Lalu seperti puisi yang baik maka puisi ini harus berhenti. Namun apabila sempat mungkin akan indah jika ia dan terutama kamu mengerti makna dibalik kata-kata ini.

Sabtu, 14 September 2013

Tertidur di beranda

Saat besok ia terbangun di beranda, yang pertama dipikirkannya adalah tentang betapa dinginnya beranda di pagi hari. Lalu berikutnya yang melintas di pikiran adalah tentang kenapa ia tertidur di beranda.

Kemudian pertanyaaan cepat berganti twntang mengapa ia seorang diri di beranda. Lalu mengapa ia masih menjepit ringan filter tembakaunya. Lalu pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah habis.

Setelah pertanyaannya tak juga habis, ia putuskan untuk terus tidur di beranda.

Puisi ini tak berjudul

Karena dia ada dimana saja saat berada di beranda itulah yang membuatnya tak habis berpikir tentang kenapa kamu masih saja merindukannya dan dia merindukanmu.

Sedang apabila rindu salah satu dari kalian telah menggebu, bukankah kehadiran kalian saling terwakili udara yang terbang melayang diantara kalian.

Lalu jika memang harus ada yang pergi bukankah kata-kata dan spasi di sela-sela puisi ini telah cukup mengganti?

Kamis, 12 September 2013

Aku menulis sekedar hanya ingin menulis

Kami harus pulang dan bersandar di dinding kamarku.
Pikirku lelah sudah hinggap di mata sedang jalan raya terasa tak berujung.

Seringkali rindu menyeruak hadir. Mau bagaimana lagi, ia masih manusia kan?

Selasa, 10 September 2013

Puisi tengah malam

Telah tuntas kau dihajar malam. Jadi kamu hanya duduk di trotoar jalan sambil menyeka pelan darah yang mengalir di bibirmu.

Siapa yang bilang puisi tak bisa menjadi cerita?

Diseberang kamu lihat bangkai tikus. Kamu ingat rumahmu dan kenangan yang tak pernah kau tinggal. Aku ingat saat kamu duduk di meja makan sembaro bercerita tentang suatu ketika. Lalu kamu teruskan bermain dengan sembrono dan kau biarkan aku tersenyum menyaksikan.

Sudah waktunya pulang kurasa tapi kamu enggan beranjak dari trotoar. Kamu berharap azan subuh menempelengmu pelan namun kau tak sadar di sekitarmu tak ada musola.

Tak pernah ada musola.

Semalaman kamu biarkan malam menghajarmu hingga habis. Dan kini saat kamu mengaduh kamu mengingat sudah beberapa tahun sejak terakhir kamu berdoa.

Mungkin Tuhan akan mengabulkan. Mungkin Tuhan sekedar mendengar dan takkan mengabulkan. Mungkin Tuhan seperti pacar paling pencemburu.

Lalu ia berpikir apabila dari doanya ia akan diberikan yang terbaik, apa gunanya ia berdoa?
Jika ia tak diberi apa-apa, apa gunanya ia berdoa?
Jika Tuhan diam saja, apa gunanya ia berdoa?

Dan sekali lagi aku tanya, siapa yang berkata bahwa puisi tak mampu bercerita?

Ia ingat jutaan bangkai tikus yang terkapar si pinggir jalan selama ini dalam hidupnya. Ia berpikir apakah pernah ada duka melintas di kepala orang? Atau jijik saat membayangkan seekor tikus mati?

Lalu nanti (dan ia benar-benar berharap nanti) ia mati, apakah akan ada duka melintas di kepala orang? Ataukah hanya ada orang yang merasa jijik membayangkanmu mati?

(Dan apa sebenarnya perbedaan ia dengan bangkai tikus di pinggir jalan?)

Masih adakah yang sangsi puisi tak mampu memberikanmu cerita?

Minggu, 08 September 2013

Puisi maaf

Maaf karena saya sempat menulis. Saya hanya rindu dengan bisikkan kata-kata yang pelan-pelan saya tulis.
Maafkan pula dengan keraguan, lalu karena dikatakan ia mudah menular maka mungkin anda telah ragu sebelum melihat titik di akhir kalimat ini.

Tapi saya takkan meminta maaf untuk berpuisi.