Selasa, 30 Juli 2013

Seharusnya

Seharusnya kita tak pernah perlu pulang karena yang benar-benar kita perlukan hanyalah untuk sekedar bersama.

Kamu bisa meneruskan menghabiskan kari ayam yang baru kamu makan separuh,
sedang aku bisa meneruskan menambal sulam mimpi di depan jendela.

Kita bisa melupakan koperku yang tergeletak di sudut pintu, lalu melanjutkan cerita yang walau sedari lalu sudah habis namun terasa tak habis-habis

Jumat, 26 Juli 2013

Pergi

Kalau kamu meluangkan waktu sekedar duduk maka mungkin kamu akan sempat sekedar berandai-andai mengapa
koper ada di bawah meja sedang kopi semakin dingin.

Kita bisa saja menyalahkan cuaca dan tertawa saat mendung tiba. Tapi sungguh
aku tak ingin pergi kemana-mana sesungguhnya.

Senin, 15 Juli 2013

Rumah

Selamat datang,
kamu tak perlu mencopot sepatu atau memasang maskara.
Bukankah kamu telah tiba di rumah?

Bagaimana kabar? Bukankah aku tak pernah lwlah dengan cerita?

Lalu nanti setelah kau sudah puas dan lelah bercerita kita akan selalu bisa duduk bertiga di beranda dengan senja.

Kemudian saatnya kamu atau kita pergi, kita akan tinggalkan rumah.
Bukankah rumah itu bisa ada dimana saja asalkan kita ada berdua saja?

Minggu, 14 Juli 2013

Yth Puisi

Halo kata, lama tak bersua.
Maaf, aku sedang sibuk dengan gambar-gambar tak berkata.
Sedang kamu enggan datang dan mengetuk pintu rumah lagi.

Telah sampai suratmu kemarin, maaf aku tak sempat merajutmu lagi.
Maksudku, sungguh. Aku sungguh minta maaf atas inspirasi yang mengalir keluar dari jemari.

Mungkin beberapa masa (detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dasawarsa) kita akan bertemu lagi.
Sampai saat itu maafkan atas segala permintaan maaf yang akan bertubi-tubi tiba

Kamis, 11 Juli 2013

Maaf aku tak bisa lagi menulis

Maaf aku tak bisa lagi menulis, kata-kataku hilang dicuri timah dan timbal.
Dan pikiranku habis disita arus dan rangkaian.