Mungkin aku hembus udara yang akan kamu hirup. Lalu kita bisa bertemu akhirnya di kotamu. Bukan dengan kota berpucuk api atau sarang burung-burung besi. Tapi sayang mungkin sudah tak ada lagi aku didalam semuamu |
Sabtu, 29 Juni 2013
Mungkin
Selasa, 25 Juni 2013
Selamat (malam)
Sayang, bukankah kita hidup di saat ini? Sayang, bukankah kamu tetap bersama orang yang bernama sama. Dan kota-kota serta cahaya sedikit mulai merayakan kita yang tak bersama lagi. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi di antara kita. Mungkin kita memang selalu begini pikirku. Tapi tetap saja aku berandai-andai. Dan andaikan bisa aku akan bertanya padamu, namun aku terlalu mencintaimu untuk bertanya padamu. Lalu nanti saat kita pulang sendiri-sendiri aku hanya berpikir alangkah senangnya jika kita bisa menghabiskan beberapa ribu langkah berdua. |
Sabtu, 22 Juni 2013
Sungguh puisi ini tidak untuk merayu
Andai saja telingamu adalah telingaku, maka alih-alih berteriak aku cukup membisikkan namamu rendah-rendah. |
Rabu, 19 Juni 2013
Maaf untuk puisi saya kali ini
Maaf untuk beberapa kata dalam pikiran. Mungkin tak sempat kukatakan tapi apa bedanya jika aku benar-benar meyakini. Maaf untuk beberapa harap yang kuungkapkan. Dan mungkin belum sampai jemariku bibir untuk menggumam. Maaf pula untuk bait demi bait puisi yang terus buruk. Aemoga aroma bahagia tercium samar-samar dari sini |
Rabu, 12 Juni 2013
Kalau saja angin
Dan dia akan terhirup pepohonan, sekawanan bajing dan beberapa kaktus yang bersembunyi dipadang pasir.
Kalau saja angin serupa puisinya. Sudah dibawa ke telinga orang-orang dan beberapa manusia. Lalu beberapa mendengarkan, beberapa terbang diantaranya, beberapa tidak peduli. Dan nanti ia akan kembali ke tempat semula. Duduk diam sembari mendengarkan angin-angin di sekitarnya.
Kalau saja angin serupa mimpinya. Maka mimpinya akan jadi mimpi yang baik. Mimpi yang baik
Selasa, 11 Juni 2013
Untuk sebuah puisi
tak juga di pikiran dan gelombang kata-kata yang tersibak.
Lalu esok hari aku akan pulang dan kucari kemana-mana, namun tak dapat kutemukan pula. Aku harus pulang dimana-mana, aku harus membaca tapi tak pernah yakin membaca dimana. Lalu aku tak yakin untuk harus membacanya lagi atau tidak.
Dan andaikan saat ini kutulis sebuah puisi yang sama persis sekalipun aku tak benar-benar yakin apakah ini memang puisi yang sama atau tidak.