Selasa, 24 Januari 2012

Gigi

Malam-malam seperti ini mengingatkannya saat ia terlahir sebagai gigimu beberapa waktu yang lalu
Namun terlalu lama bersembunyi membuatnya muak sehingga diputuskannya untuk melompat keluar dari rahang

Siapa sangka bahwa ia merindukan tertancap dibawah gusi-gusi dan bercengkrama dengan gigi-gigimu yang lain
(Ia tak peduli)
Ia merindukanmu tapi harus bagaimanakah ia mengatakannya

Bahkan saat nanti kau benar-benar bertanya aku tahu ia hanya akan berdusta:
"Aku memang harus pergi agar gigi baru yang lebih kuat dapat hadir untukmu."

Selasa, 10 Januari 2012

Menangkap gerimis hujan

Pada akhirnya kita pulang sendiri-sendiri dengan sebagian sendi gemetar dan jemari menunggu saling terkait.

 "Kami tak berdoa dengan menengadahkan tangan," ujarmu.

"Aku tak peduli, aku tak pernah berdoa," tak kukatakan. Tak pernah kukatakan

Kau menunggu balasku lantas berkata, "Aku tak sedang berbicara sendiri, aku berbicara denganmu." 

Aku diam tak peduli, lantas berkata: "Aku tak peduli, aku tak pernah peduli," tak kukatakan. Tak pernah kukatakan

Lalu kita pulang sendiri-sendiri
Kau mengait jemarimu lantas berdoa

Aku menengadahkan tangan (menangkap gerimis hujan)

Aku Dimana

Aku akan pulang, bukankah tak pernah kulanggar janjimu padamu. Tapi aku dimana?

Senin, 09 Januari 2012

Hiperbolik

Kita terbangun dan tak pernah benar-benar tertidur
"Dunia ini hiporbolik, Sayang." ujarmu
Aku mengangguk. Dunia ini hiperbolik. Sistem yang berkuasa. Orang-orang berujar yang berkuasa ada dan selalu hidup diatas kepala kita. Kepala macam apa yang tak pernah melihat ke jempol kaki saat ia menginjak paku?

Dunia ini hiperbolik, Sayang.

 Kita membicarakannya lewat udara menyedihkan memang, tapi bagaimana kita bisa membicarakannya saja sudah merupakan kita dalam terbaiknya kita. Kita bukan koma atau titik, rangkaian nada atau not balok, garis-garis nada pun bukan.

Sebagian dari kita (dulu) pernah berujar: "Selamat datang di Surga bagi kalian yang tergantung diatas tali atau mati saat melahirkan anak."

Sebagian dari kita (dulu sampai sekarang) juga pernah berujar: "Selamat datang di Neraka bagi kalian yang tergantung diatas tali."

Sebagian dari kita lagi (sekarang dan mungkin juga dulu) juga berujar: "Selamat datang. Kita tak ada dimana-mana. Kita tak pernah kemana-mana. Kita bukan dimana, kita bukan siapa, kita bukan apa. Kita tak pernah ada."

 Dunia ini hiperbolik, Sayang. Sungguh hiperbolik.

Sebagian berdoa lantas mati kelaparan. Sebagian tak berdoa hidup dengan perut tak pernah kosong. Sebagian berdoa lantas mendapat makanan. Sebagian tak berdoa lalu hidup dalam penuh kemalangan.

 Dunia ini hiperbolik, Sayang. Beberapa dari kita tahu itu.

Kita tak pernah benar-benar tahu tentang kita tapi kemudian salah tingkah saat kenyataan disodorkan kedepan kita

Sebagian bernyanyi. Sebagian lagi (seperti aku) menulis puisi di malam hari. Sebagian lagi hanya merasa bahwa ia pernah menulis puisi macam ini dan kemudian menuduhku memplagiat pikiran mereka

 Tapi ya itu tadi sayang. Dunia ini Hiperbolik

Minggu, 08 Januari 2012

Jatuh cinta di gerbong kereta

Jelas ku kan kembali di kereta saat petang nanti tiba
Karena kita akan begini sayang, dan selamanya akan begini
Satu orang di gerbong dan yang lain berjongkok di atas atap menghindari kabel-kabel listrik

Lalu kita akan jatuh cinta. Betul sayang, kita akan saling jatuh cinta
Aku cinta kau dengan payung biru yang kau genggam, dan kau yang akan cinta aku sembunyi-sembunyi menyaksikanku bergulat dengan angin kereta

Jelas kita kan kembali sayang. Kita kan kembali
Maksudku, sampai saat ini kereta adalah sarana paling cepat bagi kita untuk saling pergi entah kemana