Kita terbangun dan tak pernah benar-benar tertidur
"Dunia ini hiporbolik, Sayang." ujarmu
Aku mengangguk. Dunia ini hiperbolik.
Sistem yang berkuasa.
Orang-orang berujar yang berkuasa ada dan selalu hidup diatas kepala kita.
Kepala macam apa yang tak pernah melihat ke jempol kaki saat ia menginjak paku?
Dunia ini hiperbolik, Sayang.
Kita membicarakannya lewat udara
menyedihkan memang, tapi bagaimana kita bisa membicarakannya saja sudah merupakan kita dalam terbaiknya kita.
Kita bukan koma atau titik, rangkaian nada atau not balok, garis-garis nada pun bukan.
Sebagian dari kita (dulu) pernah berujar:
"Selamat datang di Surga bagi kalian yang tergantung diatas tali atau mati saat melahirkan anak."
Sebagian dari kita (dulu sampai sekarang) juga pernah berujar:
"Selamat datang di Neraka bagi kalian yang tergantung diatas tali."
Sebagian dari kita lagi (sekarang dan mungkin juga dulu) juga berujar:
"Selamat datang. Kita tak ada dimana-mana. Kita tak pernah kemana-mana. Kita bukan dimana, kita bukan siapa, kita bukan apa. Kita tak pernah ada."
Dunia ini hiperbolik, Sayang. Sungguh hiperbolik.
Sebagian berdoa lantas mati kelaparan. Sebagian tak berdoa hidup dengan perut tak pernah kosong.
Sebagian berdoa lantas mendapat makanan. Sebagian tak berdoa lalu hidup dalam penuh kemalangan.
Dunia ini hiperbolik, Sayang. Beberapa dari kita tahu itu.
Kita tak pernah benar-benar tahu tentang kita tapi kemudian salah tingkah saat kenyataan disodorkan kedepan kita
Sebagian bernyanyi. Sebagian lagi (seperti aku) menulis puisi di malam hari. Sebagian lagi hanya merasa bahwa ia pernah menulis puisi macam ini dan kemudian menuduhku memplagiat pikiran mereka
Tapi ya itu tadi sayang. Dunia ini Hiperbolik