Sabtu, 29 Oktober 2011

Tebak

Bisakah saya berbicara dengan diri saya sendiri walau saya sadar diri saya adalah saya dan diri saya di seberang ini bukan saya lewat sebuah jembatan supranatural buatan para Dewa?

Saya tidak sadar saat menulis puisi ini

Selamat malam, ini saya.
Ditengah malam yang anda anggap malam dan pagi yang dianggap pagi.
Sebagian dari kita bilang ini masalah persepsi, saya setuju. Bahkan itu saya sendiri sebenernya berpendapat seperti itu.

Maka apakah bisa dianggap berpendapat jika kita menyetujui pendapat kita sendiri? Mungkin bisa. Tp nieztche takkan setuju. Tapi mungkin gajah2 terbang, rembulan kembar yang enggan muncul setuju.

Saya? Saya selalu setuju

Kamis, 27 Oktober 2011

261011

Ini puisi saya untuk anda Nona Saya tahu tidak akan indah, saya belum cukup baik dalam perasaan macam ini.

Tapi yang saya tahu selama kita bergandengan tangan berdua, pergi ke ujung semesta pun tak pernah menjadi masalah

Ps: Ya, ini puisi untukmu, Nda :)

Selasa, 25 Oktober 2011

Dari puncak gedung

Beberapa sentimeter tidak pernah tampak lebih menakutkan daripada ini
Maksudku begini, kita adalah batu-batu dari langit dan akan menjadi abu jika mencapai bumi
Nyaris, jika memang anda hendak di kremasi

Kita ditelan pusaran angin
Siapa yang menduga bahkan ada burung terbang pada malam hari
Dan mendadak beberapa meter sebelum terkapar di tanah tak pernah tampak mencekam

Lalu kita kembali di puncak. Diam-diam akan kukirimkan pesan ke semesta sebelum nantinya udara akan membungkam suaranya
Selamat malam.

Senin, 24 Oktober 2011

Tinta merah

Kita adalah tinta merah di kalender
Sayang, pertemuan kita terlalu sempurna. Kemudian kita menjelma menjadi akhir minggu favorit masing-masing
Tapi bukankah kita memang adalah tinta merah di kalender?

Minggu, 23 Oktober 2011

Selamat malam, tapi Tak pernah saya ucapkan dan judul sebuah puisi sebaiknya tidak menggunakan titik kata guru saya dulu

Oh nona, hippolyta sudah lama tak bercerita Ia tinggal di gedung-gedung tinggi dan kau panggil itu gunung Dengan emas-emas, mengambil alih dunia, menyerah pada masa depan, dan sari-sari jeruk Kita berandai bahwa kita serupa dewa, berkebun apel dan mengusir dari taman firdaus pencuri kecil yang mencuri apel Sayang kita tak pernah lulus dari bangku sekolah, vitamin C terlalu menyakiti lambung, asam terlalu perih untuk antiseptik Menumbuk alung, kemudian anda berikan pada orang lain Berjalan-jalan ke bulan mungkin. Bukankah anda membawa hewan peliharaan anda berjalan-jalan. Dan kini semua masuk akal. Seekor kelinci di bulan, membuat mochi, berjalan-jalan, oh tidak. Oh tidak. Ya tuhan, aku tidak sedang bercanda kan? Ditengah kepungan asap, lagu dan soneta. Kita bacakan puisi untuk tembok. Semen yang mengering hanya menggangguk-angguk. Kita hidup di bumi. Kita tak pernah kehilangan akar. Kita selamanya berlayar di atas laut Untuk apa menjadi pelaut jika anda tidak romantis? Untuk apa menjadi bakau jika anda tidak berkelana diatas laut? Untuk apa menjadi Untuk apa Untuk Esok nanti kita akan bertemu setelah lambaian tangan. Pesta tak pernah berhenti. Kuharap pada akhirnya Kita tak berharap, aku lupa. Kuharap pada akhirnya Kau tak berharap, aku ingat Kuharap pada akhirnya Nanti balon-balon akan terbang di angkasa membawa doa-doa. (Kita, aku, kamu, sendiri-sendiri, bersama-sama. Aku tak tahu, kamu tak tahu, kita tak tahu. Tak pernah tahu)

Stanza

Bagaimana anda bisa melupakan stanzamu, tuan?
Mengatakan bahwa anda mencintainya bukanlah pilihan
Bukankah menatap layar-layar kaca menyala memang selalu menakutkan?

Sabtu, 15 Oktober 2011

Menulis, membaca, duduk, mendengarkan

Menulis puisi dan membacakannya kepada angin itu adalah urusanku
Sedang duduk sejenak dan mendengarkannya itu adalah urusanmu

Selasa, 11 Oktober 2011

Maka malam itu

Maka sejak malam itu aku memutuskan berhenti mencintaimu
Sejak angin menabrak dinding dan aku menyalakan dupa batang demi batang

Senin, 10 Oktober 2011

Perumpamaan di jalan raya

Jalanan adalah candumu
Gemeretak roda adalah nikotinmu
Raungan gas adalah simfonimu
Kecepatan adalah kafeinmu

Minggu, 09 Oktober 2011

Hai senja

Hai senja, semoga suatu hari kelak kau akan teringat (akan ingatan yang tergeletak) tentang mimpi yang tersadur aroma kemiri, dentingan kecapi (yang tak pernah ada dimana-mana) lalu membedakannya dengan beberapa malam lalu ketika ia bermimpi dan berharap hari ini adalah kemarin, kemarin adalah kemarin, dan esok adalah kemarin