Jumat, 29 Mei 2009

Sebuah puisi tentang waktu

Kamu menyuruhku untuk menunggu Dan terus memaksa diri bicara tentang waktu Padahal waktu itu satu-satunya yang kita tidak punya...

Kamis, 28 Mei 2009

Menunggu senja di kutub utara

Kalau kau mau menunggu lebih lama mungkin Pada akhirnya aku akan datang menghampirimu Menanyakan kabarmu, lalu pergi dari tempat ini bersamamu Namun kau terlalu bosan untuk menunggu Padahal senja akan selalu ada, bahkan di kutub utara

Rabu, 27 Mei 2009

Ruang kosong di sebelah kiri

Kau boleh memecahkan, lalu berteriak riuh rendah Menyambut keramaian yang dihadirkan entah berapa lama Di suatu tempat di pikiranmu, seharusnya kau tinggalkan untukku Di ruang kosong di sebelah kiri Sebelah cerebrumu yang membeku

Sabtu, 23 Mei 2009

Opsi

Dalam diriku: Maria Mendengung-dengung tanpa henti: Lebah

Kamis, 21 Mei 2009

Abu

Ia dijadikan abu tanpa harus menghitung sampai seribu Dan kini ia berpikir mengenai angin: Akankah ia merindukannya? Saat ia dihembus menjelajah keluar, entah berada dimana ia saat tarikan nafas berikutnya Dan tentang palang-palang matahari yang menembus pepohonan Akankah ia ingat tentang sepinya waktu tanpa kehadiran dirinya? Ada yang berdenyut dalam dirinya, tapi ia tak tahu: "Ia abu kan sekarang?" Dan angin, palang matahari, dan aku semua lupa pada keberadaannya Tapi aku masih bisa berpuisi Sedang langit hanya menyisakan perih

Rabu, 20 Mei 2009

Berkakulasi

Waktu yang menjadi jawaban jawaban semua pertanyaanmu itu; Membuat kita berpikir bahwa kita melangkah Padahal tak bergerak kemana-mana

Jumat, 15 Mei 2009

Kalau

Kalau kita tetap diam disini rasa-rasanya kita akan dihajar oleh pandang mencibir orang-orang lewat

Air matamu

Air matamu itu kelak menjadi awan Dan kau tertawa dalam tangismu "Kau berbohong!" ujarmu Aku diam karena memang aku berbohong Tapi setidak-tidaknya air matamu itu nantinya akan menembus tanah

Mengoceh

Ia minta agar badai dihentikan untuknya Dan aku menggeleng, dendam tak diciptakan hanya untukmu Za "Aku mencoba berkata" Dan kau menggeleng, berkata namun terbata aku tak mengerti, "Kenapa? Bukankah hujan, badai dan segala yang ada dalam dirimu... kuharap palsu? Begitu?" Aku tak tahu Za, jangan paksa aku Semestinya saat ini aku tengah berhadapan satu lawan satu dengan matahari Namun mendadak kau hadir ditengah harapan Berkata pelan, "Kuharap kau datang hari ini" Dan aku mengangguk Entah untukmu, entah untuk senja yang terkadang datang terlambat

Kamis, 14 Mei 2009

Sedikit potongan senja

Dar! Lalu mendadak tiba-tiba sesuatu yang abstrak tak terduga kiranya datang kemudian mengacak-acak merancau mengobrak-abrik lalu diam mendiamkan dan sunyi mensunyikan yang ribut sembari membuat yang lain terpojok oleh sunyi juga bisu terkadang juga pedih namun di sisi lain ia juga membawamu hadir di suatu potongan-potongan mozaik senja yang kau rasa pernah dan memang seharusnya ada di dalam lipatan-lipatan otakmu di suatu tempat yang kau rekam di suatu masa walau kau tahu tak pernah ada tapi yah kau membiarkan khayalanmu mengambil alih dengan berdalih bahwa suatu dusta dapat jadi kenyataan apabila kau sedemikian mempercayainya Tapi yah, itu menurutku

Selasa, 12 Mei 2009

Entah siapa namamu

Aku selalu menemuimu saat cuaca tak pernah cerah Entah siapa namamu, tapi kurasa namamu ada di pikiranku Suatu hari kau tersenyum sambil berkata, "Nama sekedar nama, manusia lah yg membuatnya jadi bermakna" Dan aku hanya mengangguk, padahal belum sampai koma kalimatmu kucerna"

Jumat, 08 Mei 2009

Sudahlah

Aku bosan menunggumu yang bosan menunggu Tentang kamu yang terus menerus bernarasi tentang bagaimana kamu cinta untuk terus sendiri Berharap hujan, padahal kau tahu aku suka pagi bermentari Ah sudahlah, aku pergi

Disorientasi ruang

Entah kau yang menjauh atau memang jarak diantara kita tetap begini sedari dulu Aku tak mengerti, seakan-akan aku tak pernah ada disini Semestinya itu menjadi misteri, tapi sudahlah aku tak mau tahu lagi Entah kau yang sedang berada di venus dan aku yang sedang mencari air di nebula Atau aku sedang terbang melayang, tergantung di simpul tali milik Ixtab Aku lagi-lagi tak ada disini, padahal aku tahu semestinya aku ada Disorientasi ruang

Kamis, 07 Mei 2009

Tuan sudah pulang

Hei, tuan sudah pulang rupanya Sudah berapa lama ya, sedetik lalu atau seribu tahun sejak terakhir kali anda kesini tuan Api yang membakar tungku sudah padam Tembok yang menggarisi tanah ini sudah hilang Sudah berapa lama ya? Saya terakhir kali memikirkan anda Dan anda memikirkan saya Atau waktu memang tak pernah ada? Ah, selamat datang tuan! Mari, silakan masuk Bersihkan dulu kaki anda sebelum masuk, orang-orang mengeluh

Senin, 04 Mei 2009

Tiga bait atau mungkin sebenarnya dua

Aku tak pernah bagus dalam puisi cinta Namun aku tak pernah berdusta (Syukurlah!)

Sabtu, 02 Mei 2009

Bendera setengah tiang

Dengan bedil di senjatamu kau mencoba tawar menawar dengan maut Kau berujar, "Berikan waktu beberapa lama untukku sekedar sampai habis darahku" Tapi maut tak mau dengar itu Ia mengangguk namun tak pernah setuju Sampai pada akhirnya kau sampai pula di depan rumahmu Kau saksikan bendera setengah tiang berkibar Kau bertanya-tanya, "Siapa lagi yang mati hari ini?" Lalu anak-anakmu berteriak keras-keras, berhamburan keluar "Ayah telah mati! Ayah telah mati" tangisnya Aku?