Senin, 29 Agustus 2016

Laut

Apa masih tersisa aromaku di sela-sela rambutmu saat kamu hadir di pantaiku beberapa waktu lalu?
Aku selalu berada disini dan tidak kemana-mana.

 Aku rumah yang baik bagi moyangmu dan aku akan menjadi aku yang sama beberapa masa kemudian ketika anak cucumu lahir dan berganti mengunjungiku di pantaiku menggantikanmu.

Bukankah aneh aku jutaan tahun lalu akan sama dengan aku beberapa juta tahun kemudian?

Semestinya aku tak pernah merindukanmu. Apalah arti dua jammu dibandingkan jutaan tahunku? Tapi aku ingat jelas beberapa tetes air matamu yang menambah ketinggianku walau tak seberapa.

Orang-orang seperti kita

Kamu selalu bisa menemui orang sepertiku dan orang sepertiku akan selalu bisa menemui orang sepertimu,
kita tak perlu kemana-mana. Jendela selalu terbuka untuk kita sedang kita akan tengadah saat hujan pelan-pelan masuk ke kamar kita masing-masing.

Kita tak perlu kemana-mana. Hujan mengundang kita untuk tidak keluar, kita biarkan hujan berkumpul dan menggenang di suatu tempat entah dimana. Orang-orang seperti kita selalu bebas asal kamu percaya pada aku yang percaya padamu.

Orang-orang seperti kita akan menjadi seperti kita sampai orang-orang seperti kita tak terlalu suka menjadi orang-orang seperti kita lagi untuk seterusnya.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Lalu kenapa kamu harus pergi

Kenapa pula kamu harus pergi padahal hujan sudah sedari tadi menanti
Kamu seharusnya di rumah, tertidur atau menatap pelan ke jendela
atau menonton televisi sambil mengantuk-ngantuk seperti biasa. 

Lalu kenapa kamu harus pergi? 

Senin, 22 Agustus 2016

Aku seterusnya hujan

Tak ada yang mendengarmu datang pada suatu malam suatu ketika. 

Ditinggalkanmya oleh yang lain dalam tidur mereka sedang kamu begitu saja turun perlahan-lahan lalu tersangkut di suatu cabang suatu pohon entah dimana. 

Kamu akan merayap hingga batang lalu hanya mampu pasrah saat tanah menyambutmu dan membuatmu hanya sekedar menjadi lembar pada suatu lahan entah bagaimana. 

Rabu, 03 Agustus 2016

Nelayan

Tak ada yang melarang seorang nelayan menjadi astronom atau astronot sekalipun. 
Siapa yang lebih mampu memahami pantulan sinar bintang tak berhingga di tengah lautan di bawah sinar rembulan pada suatu ketika? 

Pun cita-cita untuk menjadi gejolak darah di jantung untuk sore itu. 
Siapa yang lebih faham tentang aliran darah, samudra (apapun)?

Tapi kita memilih mendaki angin laut malam itu. Dihempas ombak fajar itu. Lalu menjelma plankton suatu sore nanti 

Siapa kamu?

Apa telah sampai pada telingamu cerita tentang orang yang pernah hampir ada dan mengetuk pintu rumahmu pada suatu masa, suatu ketika? 

Akan kah kau sambut dengan senyuman dan pelukan kasih sayang 
atau sekedar segelas teh berbasa basi sebelum memaksanya untuk pulang? 

Apakah lebih baik tiba tanpa berita sehingga bisa dinikmatinya wajah terkejut saat pintu terbuka? 

Atau lebih baik ia datang setelah terkirim kabar sehingga bisa dinikmatinya rindu hilang selembar demi selembar?

Tak ada yang tahu karena ia tak akan berani bahkan menghirup udara yang sama denganmu dan mengizinkanmu bertanya:

"Siapa kamu?"

Yang pada akhirnya akan memaksanya bercerita tentang segala sesuatu tentang gua dalam dirimu. 

Kamis, 14 Juli 2016

Puisi selamat tinggal

Kita tak akan kemana-mana. 

Temanku tak akan lari dari rumah lalu tiba-tiba kembali pulang pada suatu lebaran menenteng seorang bayi yang konon adalah cucu orang tuanya. 

Temanmu tak akan meminum kopi murahan sambil bercengkrama dengan penjual buah yang kebetulan lewat sore hari. 

Kamu akhirnya mencintai dirimu, selamat. Kurasa itu alasan kenapa kita tak akan pernah bisa (bertemu). 

Aku bisa saja menyukaimu lantas kamu menyukaiku dan kamu akan menyukai seseorang yang benar-benar menyukaimu. 

Apakah itu sama dengan menyukai dirimu? 

(Aku tak tahu)

Puisi ini tidak akan baik tapi perlu untuk dituliskan. 
Dan jika kebetulan lewat suatu kejadian yang luar biasa kamu menemui dirimu membaca puisi ini dan merasa ini adalah puisi tentang dirimu, kamu akan selalu diterima untuk menyapaku setiap waktu. 

Aku tak tahu kapan kamu akan pergi ke altar, aku hanya berharap kamu akan selalu bahagia. Sungguh, tak ada lagi keinginan lain yang tersisa. 

Hidup tak pernah mau menunggu lama, tahu-tahu salah satu dan kemudian seluruh dari kita menjelma tua. 

Aku ingat pada suatu malam saat aku berpikir kamu adalah semua. Dan ketika pada pagi itu aku melewatimu dan melirik wajahmu dari spion motorku aku hanya mampu berpikir bahwa manusia selalu berubah. 

Aku berubah, kamu berubah, tak pernah ada salah. Semua hanya harus begitu, mau bagaimana lagi? 

Jadi, selamat tinggal!