Sabtu, 28 Maret 2015

Kalau saja

Kalau diluar terlalu ramai, kamu selalu bisa masuk lalu menutup pintu.
Nanti kamu ceritakan yang baik-baik tentang dunia dan akan kuceritakan yang baik-baik tentang rumah yang sudah lama kamu tinggalkan.

Jadi kamu bisa duduk di ruang tamu dan mencoba mereka-reka di tembok mana kamu pernah menatap kosong lalu menangis sampai pagi

Selasa, 17 Maret 2015

Tentang aku, kamu, dan kita

Sayang, akhirnya kita harus pulang.

Nanti saat tak ada lagi yang bisa mengingat namaku, namamu, nama kita. Aku rasa aku masih sanggup menyimpan namaku, namamu, dan nama kita saja.

Jadi aku bisa memanggilku, memanggilmu, dan memanggil kita.

Jadi aku, kamu, dan kita tak pernah merasa sendirian lagi

Selasa, 24 Februari 2015

Selamat sore

Selamat sore, hujan. Aku rasa kamu baik-baik saja.

Jadi jika kamu benar-benar berkenan, mungkin kamu bisa tunda hadirmu dan akan kutunda sedihku.

Tapi jika tidak bisa, mungkin kita bisa saling memandang sampai salah satu entah sedihku atau rintikmu habis

Menunggu kamu dan aku pulang

Sebenarnya kita bisa saja berjalan begini selamanya.
Tapi Sayang, kamu memiliki orang-orang yang menunggumu pulang.

(Dan aku memiliki orang-orang yang menungguku pulang)

Kamis, 19 Februari 2015

Penyapu

Jadi maafkan jika aku masih pulang pukul setengah lima pagi. Aku baru bekerja waktu itu.

Aku tak ingat tentang cantikmu yang sedang duduk manis di bangku penumpang. Aku sedang sibuk melihat sampah dan bekas ludah yang dibakar matahari tadi pagi.

Dan aku tak bisa pulang jika ingin. Kalau semua yang seperti aku pulang, siapa yang bisa lagi menggunakan jalan ini?

Sabtu, 24 Januari 2015

Membukakan pintu

Akhirnya kamu keluar membawa kunci. Tergopoh kemudian berkata pelan sambil sibuk memilih kunci mana untuk gembok yang ini,

"Maaf lama menunggu. Aku tak ingat lagi dengan wajahmu."

Aku diam kemudian membalas berkata,
"Tak apa. Aku pun sering tak ingat lagi dengan wajahku."

Januari

Terakhir berpuisi di bulan Januari, aku tak sempat ingat dengan namamu.
Aku hanya ingat lukisan bunga yang tergantung di ruang tamumu, segelas air yang kamu hidangkan dan betapa waktu enggan untuk berjalan.

Aku masih ingat tentang harum bunga bakung yang kamu coba gambarkan dan betapa aku tak peduli (saat itu) saat tiba-tiba kamu melangkah perlahan ke sofa tempat aku duduk dan berkata,
"Jadi Aldo, ada cerita apa kali ini? "

Aku hanya diam. Setengah panik kuteguk cepet air putih yang kamu suguhkan. Aku diam menatap wajahmu dan ketika kukira kamu mengerti arti pandanganku kamu hanya diam.

"Pejamkan matamu, kita ke Venesia saat ini." ujarmu tiba-tiba.
Aku menggeleng. Kamu menghela nafas panjang kemudian pergi ke dapur membawa gelasku yang sudah kosong.

"Apa namamu benar-benar Aldo?" tanyamu sembari duduk. Tak ada gelas air putih lagi. Aku mencoba menanyakan tapi kamu menjawab sebelum aku sempat bertanya.

"Air putih hanya membilas dustamu. Aku ingin jujurmu saat ini."

Aku melihat sekeliling. Lukisan bunga bakung tidak balas menatapku, hanya matamu yang membalas pandangku di ruang tamumu ini.

Aku akhirnya mengangguk. "Namaku Aldo Rahmansyah Sosodoro. Berkata jujur adalah urusanku sedang urusan percaya atau tidak, itu urusanmu."

Kamu akhirnya tersenyum untuk kesekian kalinya hari ini. Aku balas bertanya,

"Siapa namamu?"

Kamu tidak menjawab. Kamu berdiri ke dapur membawa segelas air putih kembali. Aku sudah tidak haus lagi.

"Namaku adalah . Tapi toh percuma saja aku sampaikan, kamu takkan pernah ingat. "

Aku kemudian tertawa. Dalam hatiku aku berpikir mana mungkin aku bisa tak ingat?

Tapi betul saja. Karena saat kutulis puisi ini aku tak bisa ingat betul namanya. Yang aku ingat hanya aroma lukisan bunga bakung yang tergantung di ruang tamunya.