Jumat, 18 Oktober 2013
Cara menulis puisi yang baik
Tak ada yang mengetahui kenapa kata-kata keluar berurutan, hanya sekedar harus keluar.
Mungkin juga ingatanmu adalah bumbu yang paling baik. Mungkin juga andaikan kamu tak beringatan, puisi-puisimu akan menjadi lebih baik.
Mana ku tahu, aku tak pernah tak beringatan
Satu akar puisi
Tapi sekali-kali tidak akan menyakitimu jika mengingat bahwa huruf dan kata takkan hadir kecuali seseorang mengucapkannya.
Sedang puisi, sebaik-baik dan seburuk-buruknya tetap membutuhkan pikiran seseorang untuk sekedar hadir
Kamis, 10 Oktober 2013
Setelah pulang
Sedang udara yang sempat kamu hembus di ruangan ini pelan-pelan sudah keluar lewat celah jendela dan pintu.
Minggu, 06 Oktober 2013
Ada yang berbeda
Ada yang berbeda dari dirinya yang sekarang dengan dirinya beberapa masa yang lalu. Ia tetap saja menulis dalam buta, entah siapa yang akan membacanya. Ada yang berbeda namun ia tetap saja memandang semu. Ia tak ingat apapun, ia ingat dirinya. Itu saja. Ia ingat mimpi-mimpinya dan betapa sadar bahwa ia yang sekarang tak pernah sedikitpun ada dalam pikirannya dulu. Dan kata-kata yang mengalir dari jemarinya, sejauh apapun berbeda ia tetap jujur dalam bercerita. |
Minggu, 22 September 2013
Karena aku harus pulang
sedang rinduku akan ku hias baik baik (ia tak pernah kemana-mana)
ia akan sembunyi pelan-pelan jika nanti kita sudah bertemu.
(Mungkin)
Sepele
Lalu untuk apa pergi jika kita tak pernah ingin kembali?
Petanyaan terakhir adalah tentang ada dimana kah kita saat mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan sepele ini?
Senin, 16 September 2013
Selamat datang di kepalanya
Selamat datang di kepalamu, bukankah kamu asing disini? Kamu bisa saja menuang teh dan menggigit biskuit. Tapi kamu tak tahu harus kau apakan lagi ragu. Lalu apalagi yang bisa dilakukan jika memang kendara sudah tiada. Kamu berjanji, benar kamu berjanji. Omong kosong sebenarnya jika kamu masih membiarkannya menunggu. Tepat saat meihatmu bencinya musnah dan membuatnya yakin benci padamu tak pernah ada. Andai kamu sempat dengar doa-doanya yang selalu diselipkannya setiap malam. Dalam hatinya tentu saja ia tak pernah tahu apa lagi isi kepalanya. Tapi ia ingin kepalanya mengganti hatimu hingga tak ada yang perlu dipikirkannya selain menghidupimu dengan pikirannya. Karena bukankah rindunya padamu adalah rindu yang indah? Dan dari setiap bibirnya keluar kata-kata serupa mantra. Dan dari kupingnya keluar cahaya beraroma badai. Jadi ia mau tak mau berandai-andai pula kenapa kamu enggan duduk sekedar sebentar bersamanya disini. Yakin benar ia tak bisa menjajikanmu selendang sutra. Pikirnya cintanya sudah menyelubungimu penuh dan tak perlu lagi hadir diantara mereka. Bukankah cintanya sudah membakar sedemikan rupa? Lalu seperti puisi yang baik maka puisi ini harus berhenti. Namun apabila sempat mungkin akan indah jika ia dan terutama kamu mengerti makna dibalik kata-kata ini. |