Minggu, 31 Juli 2011

Tahu

Ya tentu saja saya tahu, tapi masalah mau tahu atau tidak itu urusan lain.
Anda mungkin suka ikut campur dan berpikir bahwa tau akan segala padahal segala hanyalah

Senin, 18 Juli 2011

Di sebuah TK

Bukankah menyenangkan bisa menggambar seenaknya dan menyerahkan penilaian mengenai gambar apa, titik tengah apa, gaya melukis apa pada orang lain?
Kita bisa menggambarkan tiga buah matahari, setengah garis sawah kemudian melingkarkan senyum pada sapi-sapi, sapi-sapi tak pernah tersenyum.

Penilaian itu kan milik kalian yang sudah dewasa. Bagi kami seluruh dunia tersenyum.

Minggu, 17 Juli 2011

Dari masa lalu

Dan pesawat-pesawat tempur kertas satu persatu mulai berterbangan

Selasa, 05 Juli 2011

Mimpi buruk

Makanya mimpi buruk lantas ia terbangun jendela masih enggan terbuka, matahari belum datang menyeruak masuk

Hujan turun

dia pun terbangun, hujan turun ia tak ingat sedang apa, dimana atau sekedar siapa ia yang ia tahu hanya satu: hujan turun

Jumat, 01 Juli 2011

Aku tak bertanya

Hampir bulan Juli,
 "Rumahku disana," ujarmu sambil menunjuk.
"Cijawura?"
Tanyaku.
 "Bukan, dekat Cicadas."
Dan aku menggeleng tak mengerti. Bukankah Cicadas itu bersebrangan dengan arah yang kamu tunjuk?
 "Kalau hatiku, sudah kutitipkan padamu." Lanjutmu. Aku diam.

 Bukankah aku tak bertanya itu?

Kamis, 23 Juni 2011

Sonet: Bandung Bulan Juni

Matahari membiarkanmu berkaca-kaca tapi ia takkan bisa menebak: siapa yang berdarah. Siapa yang menangis kamu bahkan tak peduli saat ia tak peduli
Dalam hati kau berharap amat sangat malam tak pernah datang maka ia berpura-pura saja senja ini selamanya
Yang tak kau ketahui menjadi apa yang kau tak tahu. Lantas kau takkan pernah tahu apa yang kau tak tahu. Karena itu disimpannya cinta terhadapmu diam-diam di hatimu. Dan bukankah memang ia berharap amat sangat kau juga akan menyimpan cinta terhadapnya diam-diam dihatimu?

Maka ia akan merindukanmu. Dengan rindu yang takkan ia katakan padamu, pada matahari, bahkan pada dirinya sendiri.
Seingatnya ia sudah mengatakan padamu bahwa ia akan menunggu sampai kapan ia tak tahu. "Selamanya," tapi tak pernah dikatakannya.

Dan ia diam saja mencium aroma malam. Senja tak sebaik itu. Matahari tak pernah peduli. Dan ia benci bulan setengah mati. "Dan bukanakah memang kita semua adalah pendosa?", ujarmu. Ia menggangguk tak peduli. Tapi kata-katamu serupa ayat suci baginya

"Maaf karena ia mencintaimu. Maaf karena kau tak mencintainya. Maaf untuk alasan-alasan," lagi-lagi tak ia pernah katakan.

Hati-hati ia berteman angin. Jadi saat sepatumu kering ia akan selalu berada disana. Ia berada dimana-mana. Mungkin saja ia hanya dapat menggumam rindu. Mungkin saja ia memang harus melupakanmu. Mungkin saja kamu harus melupakannya. Mungkin saja kalian memang harus seperti itu. Setidak-tidaknya kalian (atau setidaknya ia saja) masih punya kenangan saat kalian duduk berdua saja