Selasa, 19 Oktober 2021

Ada terang

Ada terang telah dirampas dari matamu yang 
kalah.
Dari lampu telingamu. 
Dari pagar depan rumahmu.

Ada diam telah hadir hinggap di lidahmu yang
kelu.
Di jemarimu.
Di trotoar

Kamis, 14 Oktober 2021

Satu gelas berdua

Ditampar angin malam yang gusar, kamu memutuskan untuk berhenti dari kembara rumahmu di sebuah kedai khusus manusia:

tiga ekor babi duduk di meja.
satu ekor rusa duduk di depan pramusaji.

Kamu (manusia kukira), duduk di lantai. Mengangkat tangan kemudian berkata lantang:

"Aku minta minuman apapun yang tak pernah diminum malam ini."

Pramusaji gemetar. Seluruh minuman sudah habis. Gelas pun belum tercuci. Gemetar ia berkata,

"Tuan, maukah kamu berbagi segelas kecap asin dengan seekor rusa?"

Cuih. Kamu meludah pongah ke samping Rusa.

Belum habis amarahmu, kamu putuskan untuk pulang begitu saja.

Rabu, 24 Februari 2021

Bukowski

dalam tulisanmu kamu pernah berharap hidupmu serupa Bukowski.


Tapi apa pasal? Sebaik-baiknya tulisannya, siapa yang mampu hidup seperti seorang brengsek setiap malam?

Dan kamu mencintai dirimu sendiri sepenuh-penuhnya. Tapi kamu tak mampu semencintai dirimu untuk tak mencintai selain dirimu.

Dan kamu akan menikmati hidup sederhana. Pulang kantor setiap setengah lima sore, meneguk kopi disela-sela istirahat dan mencuri waktu untuk merokok diam-diam.

Dan kamu rasa hidup sepertimu saja sudah cukup

Rambut cokelatmu

Beberapa tahun ke depan, akan ada ribuan orang yang akan jatuh cinta padamu semudah itu.

Kamu hanya perlu tersenyum, menunjukkan lesung pipitmu, dan seluruh dunia bertekuk lutut dihadapmu.

Lalu kami kibaskan rambut cokelatmu, dan aku bersumpah sisa semesta akan benar-benat jatuh cinta padamu.

Dan saat kamu tersenyum dan tertawa, jutaan dimensi lainnya akan mendengar dan menuliskan namamu di aliran darahnya.

Tapi setidaknya pada siang tadi, saat matahari bersinar terang-terangnya, ayahmu inilah lah yang pertama kali mencintaimu untuk kali ini dan seterusnya.


Hidup yang indah-indah

hidup yang indah-indah memang bukan diperuntukan bagi kita berdua.

kamu akan selalu pulang tengah malam, lalu tertidur dengan kaus dalam dan jeansmu karena terlalu lelah untuk bersalin.

aku akan pulang selelahku. lalu duduk di depan taman, merokok hingga azan subuh tiba, lalu tertidur saat adzan zuhur berkumandang.

kamu setiap bulan akan pusing menghitung budget. aku duduk di atas sofa sambil mengucap mantra:

"Semua akan baik-baik saja, Sayang."

Dan entah karena kamu percaya pada ucapanku atau ku, yang jelas kamu hanya akan tersenyum dan menyadari bahwa hidup akan baik-baik saja.

(Walau tak pernah indah)