Mungkin karena kukira kamu sudah tertidur di bangku penumpang, aku kemudian bersenandung sambil menatap jalanan
"Entah mengapa aku tak percaya saat kamu mengatakan bahwa kamu pernah menjadi vokalis tapi kini aku mulai percaya..."
Garis putih jalanan menyala terangku tersenyum mendengar suaramu.
"Ada banyak hal yang tidak kamu percaya tentangku tapi aku tak pernah berbohong padamu."
Aku tak melirik tapi kukira kamu tersenyum. Aku menghentikan nyanyian dan berpikir tentang jarak dan kilometer dan betapa jauh sebenarnya 200 meter dan 1 kilometer yang silih berganti.
"Teruskan tidurmu, kubangunkan jika sudah tiba dirumahmu."
Kamu menggeleng.
"Aku tak bisa menyetir tapi paling tidak aku bisa menemanimu di jalan."
Aku mengingatkan tentang urusanmu esok pagi tapi kamu hanya tersenyum.
"Apa aku akan menjadi suatu kisah dalam puisi-puisimu?"
Aku terdiam. Mungkin suatu saat jika kita sudah takkan pernah bisa bertemu lagi, dirimu akan muncul pada awal, tengah, akhir dari suatu puisi.
Siapa sangka puisi itu adalah puisi ini?