Kamis, 30 Maret 2017

Lamaran

Diseberangku kamu tersenyum malu-malu sedang aku gelisah memainkan jemari.
Ayahmu sesekali menatapku tapi ia lebih suka memandang pintu malam ini. 

Ibumu hanya diam menunggu bicara. 
Sedang aku hanya berani menatap masa depan jauh disana

Selasa, 28 Maret 2017

Darah di udara

Pada akhirnya aku tak mampu menjelaskan hal-hal yang tidak pernah mampu untuk jelaskan juga. Otakku berhenti dan jantungku memompa darah ke udara.

Saat lapis demi lapis nyawanya mulai terkikis, ia merasa mendengar suara.

"Selamat malam..."

Ada beberapa hal yang terucap sebenarnya tak bermaksud apa-apa

lalu pada malam-malam serupa pada malam-malam yang pernah ia habiskan saat kamu tertidur dan ia hanya mampu menatap langit-langit kamar dan berpikir sedang apa ia saat ini jika ia tidak ada berada disampingmu yang sedang tertidur lelap,

ia memikirkan tentang malam-malam yang ia habiskan saat ia bersama dirimu dan betapa menyedihkannya sisi kiri kasurnya yang kosong sehingga tampak lebih dingin dari biasanya. Dan kata-kata serta kalimat yang terucap pada saat mereka berpisah. Ia tahu ia tidak harus meminta maaf, untuk apa meminta maaf pada hal-hal yang membuat dirinya menjadi dirinya? Tapi ia tahu pasti jika memang meminta maaf bisa mengembalikannya sejengkal lebih dekat denganmu ia takkan perlu untuk membuan waktu sepersekian detik untuk berpikir untuk mengetuk pintu rumahmu dan meminta maaf atas kata-kata yang pernah terucap yang sebenarnya tak bermaksud apa-apa.

Kamu pergi hari ini

saat kamu mendengar dentuman pintu yang kamu tutup dari punggungmu, kamu berujar sendiri:
"aku akan pergi. Aku harus pergi."

Dan kamu saksikan mendadak dunia terasa begitu indah. Kamu bisa mencium bunga bakung dan tulip ribuan kilometer dari depan teras rumahmu saat ini. Kamu berpikir sendiri pada dirimu:
"aku akan pergi. Aku harus pergi."

Dan kamu pergilah. Kamu tak sedang merasa bosan berada dimana-mana, kamu hanya harus pergi. Kamu tidak pergi ke mana-mana, kamu hanya sedang ada di perjalanan.

Kamu harus pergi. Kamu pergi hari ini.

Rabu, 15 Maret 2017

Mercusuar

Aku tidak akan selalu ada dimana kamu berada tapi aku akan selalu disini saat kamu tiba,

kamu tak perlu bercerita tentang:
kenapa kamu pergi
kapan kamu tiba disini
apa kamu harus kembali
bagaimana cuaca hari ini
mengapa kamu hanya duduk terdiam sendiri

Selasa, 14 Maret 2017

Apakah aku akan hadir dalam puisimu?

Mungkin karena kukira kamu sudah tertidur di bangku penumpang, aku kemudian bersenandung sambil menatap jalanan

"Entah mengapa aku tak percaya saat kamu mengatakan bahwa kamu pernah menjadi vokalis tapi kini aku mulai percaya..."

Garis putih jalanan menyala terangku tersenyum mendengar suaramu.

"Ada banyak hal yang tidak kamu percaya tentangku tapi aku tak pernah berbohong padamu."

Aku tak melirik tapi kukira kamu tersenyum. Aku menghentikan nyanyian dan berpikir tentang jarak dan kilometer dan betapa jauh sebenarnya 200 meter dan 1 kilometer yang silih berganti. 

"Teruskan tidurmu, kubangunkan jika sudah tiba dirumahmu."

Kamu menggeleng. 

"Aku tak bisa menyetir tapi paling tidak aku bisa menemanimu di jalan."

Aku mengingatkan tentang urusanmu esok pagi tapi kamu hanya tersenyum. 

"Apa aku akan menjadi suatu kisah dalam puisi-puisimu?"

Aku terdiam. Mungkin suatu saat jika kita sudah takkan pernah bisa bertemu lagi, dirimu akan muncul pada awal, tengah, akhir dari suatu puisi.

Siapa sangka puisi itu adalah puisi ini? 


Senin, 13 Maret 2017

Pesawat menuju Pekanbaru

dalam ingatannya ia sudah beberapa ratus kali berada di pesawat tapi ia tak pernah merasa nyaman pula

ia selalu menampik gula-gula yang ditawarkan pramugari dan sibuk menatap jalanan lepas landas pesawat 

pesawat seperti mesin waktu, ratusan kilometer yang dulu ditempuh berbulan-bulan mendadak ditempuh dalam hitungan jam bahkan menit

ia berkata pada dirinya sendiri, 

"Ia akan baik-baik saja, pesawatnya akan membawanya ke suatu tempat. "

Senin, 06 Maret 2017

Hio dan Taffy di ruang tamu

kamu menyilakanku masuk maka masuklah aku.

"Di atas meja ada Hio dan Taffy, silakan pilih salah satu." ujarmu

Aku melirik jam dinding dan berpikir bahwa aku harus pulang padahal baru juga aku tiba disini.

"Aku harus pulang..." ujarku cepat

Kamu mengangguk.

"Hati-hati, jalanan tak pernah hafal namamu."

Aku mengangguk.

Lalu aku pulang. Aku nyalakan Hio di atas sepeda motor agar ia mati ditiup angin. Aku kunyah taffy agar habis ia dilumat liur.

Pulang larut malam

kalau kamu selalu pulang larut malam, mana sempat kamu membuka buku membicarakan tentang yang pernah ada dan harus bagaiman sesuatu yang belum ada?

kalau kamu selalu pulang larut malam, mana sempat kamu menyeduh teh Lancaster yang sengaja kamu bawa untuk diminum setiap senja dan menikmati matahari berganti rembulan di angkasa?

kalau kamu selalu pulang larut malam, mana sempat kamu membicarakan mimpi dan harus kemana beberapa tahun lagi?

Berlayar

Kelak kamu akan menjadi karang di lautan, di hempas oleh ombak dan berakhir menjadi makanan terumbu.

Tapi itu nanti, hari ini kamu akan meninggalkan susuan ibumu, melepas tambang dan mengangkat jangkar.

"Angin, burung camar, dan matahari. Bukankah hari ini adalah hari yang indah untuk pergi? "

Kamu nikmati rayuan angin yang mengusap lembut rambutnya, suara ombak meninabobokan telinganya dan rasa garam memanjakan lidahnya. 


Kamis, 02 Maret 2017

Gagarin

Kamu tak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja
Kini jemariku di luar angkasa dan bumi tampak tidak ada masalah.