Selamat datang di kota mereka sayang dan kita tak diterima
Dinyanyikan lagu-lagu di puncak gedung dan yang tersisa bagi kita hanya hembusan angin-angin dingin di pinggir jalan
Dan saat beberapa orang menyanyi riang di trotoar, akan kami tangiskan cahaya agar terang malam ini
Ah Apollonia. Betapa kami berharap tak pernah pergi kemana-mana
Sabtu, 29 September 2012
Sabtu, 22 September 2012
Apa yang kutulis dan mengapa aku menulisnya
Sayang, semestinya kau sudah cukup berandai-andai tentang apa yang kutulis dan mengapa aku menulisnya.
Sebab kadang memang aku tak tahu apa yang kutulis dan mengapa aku menulisnya.
Dan bukankah huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat tak pernah peduli tentang apa yang kutulis dan mengapa aku menulisnya.
Sebab kadang memang aku tak tahu apa yang kutulis dan mengapa aku menulisnya.
Dan bukankah huruf-huruf, kata-kata dan kalimat-kalimat tak pernah peduli tentang apa yang kutulis dan mengapa aku menulisnya.
Bara
Maka jika kau tanya,
"Untuk apa kau nyalakan tungku jika sekedar bara pun kau tak punya?"
Maka aku sungguh tak tahu harus menjawab apa selain berandai-andai bahwa kita tak harus selalu berharap pada bara. Bukankah kita punya kayu?
Sama, ketika malam-malam kau putuskan untuk keluar diam-diam.
Aku terlelap dan sungguh mati kukira aku bermimpi saat kau mengendap-endap meninggalkan pintu rumah
Dan lampu pun tetap gelap. Hanya jarum-jarum jam bergeser pendek ke sana kemari.
Aku berharap kau mengucapkan selamat tinggal.
Tapi untuk apa berharap pada orang yang menanyakan kenapa aku menyalakan tungku walau tak memiliki bara?
"Untuk apa kau nyalakan tungku jika sekedar bara pun kau tak punya?"
Maka aku sungguh tak tahu harus menjawab apa selain berandai-andai bahwa kita tak harus selalu berharap pada bara. Bukankah kita punya kayu?
Sama, ketika malam-malam kau putuskan untuk keluar diam-diam.
Aku terlelap dan sungguh mati kukira aku bermimpi saat kau mengendap-endap meninggalkan pintu rumah
Dan lampu pun tetap gelap. Hanya jarum-jarum jam bergeser pendek ke sana kemari.
Aku berharap kau mengucapkan selamat tinggal.
Tapi untuk apa berharap pada orang yang menanyakan kenapa aku menyalakan tungku walau tak memiliki bara?
Aku tulis puisi ini
Kalau kau percaya aku masih mencintaimu, apa gunanya aku tulis puisi ini?
Dan andaikan kau tak percaya aku masih mencintaimu, apa gunanya pula aku tulis puisi ini?
Dan andaikan kau tak percaya aku masih mencintaimu, apa gunanya pula aku tulis puisi ini?
Kamis, 20 September 2012
Ruci, akhir 1
Diseru pada Bima,
"Masuklah kau melalui teling kiriku!"
Bima bingung lantas menggeleng
"Untuk apa kugunakan telingamu sementara aku memiliki telingaku sendiri?"
Diseru pada Bima
"Masuklah pada diriku!"
Bima balas berseru,
"Aku tak bisa masuk dalam dirimu. Mana bisa, sedangkan aku adalah aku dan kamu adalah kamu?"
Diseru pada Bima. Singkat.
"Kita!"
Bima diam. Ia mengerti. Maka masuklah ia ke dalam Ruci. Lewat telinga kirinya
"Masuklah kau melalui teling kiriku!"
Bima bingung lantas menggeleng
"Untuk apa kugunakan telingamu sementara aku memiliki telingaku sendiri?"
Diseru pada Bima
"Masuklah pada diriku!"
Bima balas berseru,
"Aku tak bisa masuk dalam dirimu. Mana bisa, sedangkan aku adalah aku dan kamu adalah kamu?"
Diseru pada Bima. Singkat.
"Kita!"
Bima diam. Ia mengerti. Maka masuklah ia ke dalam Ruci. Lewat telinga kirinya
Langganan:
Postingan (Atom)