Jumat, 23 Juli 2010

Cinta tengah mesiu

Baiklah, kau asah pisau dan kurasa itu yang kau sinonimkan dengan rindu Sedang aku menggerek-gerek kasar batang-batang bambu, Kita lupakan sejenak dentuman mesiu, teriakan-teriakan liar membakar Oh ya, dan darah yang barusan berhenti mengalir walau sekejap Mestinya kita tidak seperti ini, mana mungkin kita cukup bodoh untuk memilih berperang? Tapi aku bukan pecundang, dan kau pasti malu memiliki kekasih seorang pecundang Kalau aku? Yah, aku lebih bersedih lagi jika tidak memiliki kekasih Namun kurasa kau lebih malu memiliki kekasih pecundang, ya kan kekasihku? Dan selanjutnya seperti itu, sederhana Kau asah pisau itu, kau berpikir sedemikian rupa ia bukan lagi rindu Dan batang-batang bambu itu? Ah ia sudah bertunas Buahnya bernama cinta, sayang ia terburu-buru dipangkas untuk dijadikan senjata

Selasa, 20 Juli 2010

Tuhan menjadikan

Tuhan menjadikan tanganmu Tapi terserah padamu hendak kau jadikan: Tamparan, pukulan, usapan, pelukan Sama saja Tuhan menjadikan hatimu Tapi terserah padamu hendak kau jadikan: Benci, cinta, sayang, iri Sama saja

Minggu, 18 Juli 2010

Short notice

My new blog: http://cersupen.blogspot.com

Kau tak perlu

Kau tak perlu mengobrak-abrik ruangan atau membakar jendela, terduduk diam di sudut kamar, kemudian mengiba agar senja lekas tiba sedang malam sedang enggan menyapa meninggalkan kita yang hanya bisa menyesal saja. Lalu kau hanya bertanya perlahan, "Mengapa kita harus lahir di pagi hari?" Aku diam, kemudian menjawab perlahan, "Agar bisa saling mencintai kurasa"

Senin, 12 Juli 2010

Blitar

Kota ini bukan kota Waktu tak pernah berputar disini, dan orang-orangnya akan tetap sama Dan anak-anaknya akan tetap menjadi anak-anak Sementara pemakamannya tak akan bertambah Mungkin suatu hari saat penjaga makam sudah meninggal, kota ini berubah Waktu berputar Dan seluruh dunia mengikuti, di bawah langit Blitar

Kamis, 08 Juli 2010

Ini hati

Ini hati sudah kutitipkan padamu sebenarnya
Jadi saat ia bertebaran di tengah lantai, aku hanya mendelik tak percaya

Rabu, 07 Juli 2010

Aku tak tahu

Aku tak tahu apakah kamu datang dengan patah hati Namun kamu datang dengan tubuh bergetar, bibir bawah tergigit dan air mata yang mengalir Yang ku tahu kamu datang basah kuyup, hanya itu Ah mungkin karena hujan, mungkin juga karena air matamu

Senin, 05 Juli 2010

Tidak akan tercipta puisi macam ini

Mungkin hidup ini akan sederhana Jika hanya ada satu, dua, tiga Lalu e, d, c, b, dan a saja Tapi sayang, tidak akan tercipta puisi macam ini jika begitu

Kamis, 01 Juli 2010

Doa dalam mimpi

Kurasa aku tidak tidur semalam namun masih juga bermimpi Tentang kelinci-kelinci yang berlompatan di luar angkasa Lalu musafir-musafir yang mendadak merindukan pulang Dan juga hujan air mata yang mendadak menjadi sinar kuning bertebaran Entah berada dimana aku saat itu, mungkin aku sedang melompat-lompat liar di nebula Mungkin juga terpanggang hangus di kutub utara Siapa tahu? Bukankah aku yang sedang bermimpi saat itu Sedetik kemudian aku berdoa kepada Tuhan agar mimpi ini jangan berhenti Sedetik kemudian aku menyerah, aku berdoa setidak-tidaknya hentikan hujan yang mendadak turun membangunkanku Lalu kemudian aku terbangun karena hujan saat berdoa agar tak membangunkanku karena hujan Mungkin Tuhan tak mengabulkan doaku saat itu Mungkin juga Ia mengabulkan, karena sungguh sampai saat ini aku tak tahu yang mana mimpi dan yang mana kenyataaan

Mungkin kalau

Mungkin kalau kau perlahan sebentar akan kusampaikan pelan-pelan ditelingamu Tentang impian yang selalu tergantung di langit-langit kamar Masa depan yang tertempel rapih dengan selotip di tembok Atau tentang harapan yang terserak bercecer di lantai kosan