Jumat, 25 September 2009

Mari sejenak kita berpikir (tidak?) seperti penjahat

Ya, aku tahu aku akan mati. Bahkan para begundal yang paling rusak sekalipun tidak akan mengingkari kalau ia akan mati pada akhirnya. Tapi apa lantas aku berharap untuk mati? Tidak. Apa aku kemudian menghindari kematian? Tidak. Menunggu? Tidak. Pasrah? Tidak. Menjemput? Tidak. Mati ya mati, tak usah di apa-apa kan. Yang membunuh pada akhirnya bukan peluru, belati atau yang lain. Yang membunuh selalu perasaan. Ya, perasaan. Sederhana. Entah pikiranmu, entah pikiran orang lain yang membunuh. Kalau kamu hidup tapi dianggap mati oleh semua orang, apa masih berguna sisa hembusan nafasmu? Dan kalau memang kita telah mati tapi orang menganggap kita masih hidup, apa ada yang berkeberatan?
Aku tahu Tuhan itu Maha Besar dan aku tahu Ia punya kuasa untuk menerima semua doaku. Lalu kau berpikir apakah aku akan berdoa untuk masuk ke surga? Tidak. Apa aku berdoa agar aku dijauhi dari neraka? Tidak juga. Aku malu berdoa semacam itu sedangkan dosaku membabi buta. Jika aku memang harus berdoa, doa yang aku panjatkan ialah agar neraka tidak terlalu panas. Sederhana kan? Setidak-tidaknya dengan itu aku mengakui dosa-dosaku dan aku mengakui keberadaan Tuhan dengan caraku sendiri

Senin, 21 September 2009

Rainbow girl

Even the rainbow will bow to you For your smile, the cure of all sickness For the unspoken sound, even make the raging storm calm For the neverending colors, everlasting than the rainbow itself

Minggu, 20 September 2009

Lailatul Qadr?

Suatu hari kamu menyapaku perlahan: "Apa ada yang tersembunyi saat yang disembunyikan tak lagi tersembunyi?" Aku tersenyum menjawab, "Kalimat sapaan macam apa itu?" Aku lalu teringat pada malam-malam yang habis dalam sendiri

Ada

Berpuasa itu apa maksudnya? Menyembah itu apa maksudnya? Ada itu apa maksudnya? Kita itu apa ada kah artinya?

Jumat, 18 September 2009

Yang datang mengiba

Kau kunci rapat-rapat matamu Dari cahaya terang, dari Matahari Aku tahu aku mencintaimu Tapi kurasa kamu terlalu lama mencintai sepi Terlalu lama sampai membenciku Tapi aku bukan sepi Aku nyanyian yang mengantarmu tidur

Sabtu, 12 September 2009

Gerimis kala badai

Kadang-kadang aku menjadi orang bodoh Yang berlarian liar diantara orang-orang Mencuri sedikit kebahagiaan Tertawa-tawa lepas tanpa tujuan Atau dikemudian hari aku menjadi Gerimis kala badai Rintik-rintik hujan kecil saat hujan menggila Sejumput garam di samudra antartika

Rabu, 09 September 2009

Oh yes, I'm also a sinner

Strange man walking down the street Walking down the street No gun, no fun No gun, no fun Someone run The other crumbs Dream shattered I'm a sinner

Selasa, 08 September 2009

Something that feels like never ending

. . . . . . . . . Oh crap, I could do this forever . . . . . .

Minggu, 06 September 2009

Kita tak perlu menangis

Kita biarkan saja urusan tangis-menangis ke kaum yang bodoh Karena selagi suara ini lantang mengumpat Kita sisakan air mata ini tumpah lain kali Mungkin besok mungkin lusa Mungkin sesaat sebelum kita mati Tapi kalau memang sudah benar-benar tak tahan (aku akan bersembunyi) lalu menangis keras-keras