Senin, 31 Agustus 2009

Bukankah kamu ingin membakar dan merusak segala?

Angin berputar-putar ringan di kepalamu Tetap juga tak kau bisa rasakan aroma wangi udara yang mengelilingimu Suara biola, piano, denting harpa yang terdengar Menyedihkan, ia malah menjadi nyanyi sunyi untukmu Suatu waktu kamu menyesal atas ketidakberadaan Dilain waktu kamu menyesal atas keberadaan ...dirimu Kamu ingin marah, memberontak, menganggap sampah semua yang menganggapmu sampah Mengobrak-abrik pikiranmu, menjungkirbalikkan pemahamanmu Menyobek semua lembaran buku yang pernah kamu baca Kamu bosan terhadap eksistensi "Bersyukur? Aku bahkan tak pernah minta untuk dilahirkan" Kau berani berkata seperti itu Walau kamu tahu kamu takut terhadap Tuhanmu, entah kenapa kamu tak ingin menarik pernyataan itu Bukankah kemarin kamu telah datang dan berkata dengan lantang "Aku ini perusak segala"

Kamis, 27 Agustus 2009

Saat kamu

Aku ingin hujan turun saat kamu ada Karena saat itulah kehangatan darimu akan semakin terasa Aku ingin angin berhembus kencang saat kamu datang Karena saat itulah kamu akan tahu betapa kuatnya perasaan cinta ini Aku ingin maut datang saat kamu dan aku bersama Karena pada saat itulah kamu akan tahu bahkan maut tak bisa memisahkan kita...

Sabtu, 22 Agustus 2009

Jika aku

Jika aku api, kamu udara tak beroksigen Jika aku tanah, kamu tanaman kering gersang Jika aku mati, kamu lubang galian semalam Jika aku banjir, kamu sampah-sampah menggunung Jika aku Amerika, kamu seluruh dunia Jika aku mata, kamu gelap kelam Jika aku gorden, kamu cahaya terang Jika aku pena, kamu tinta yang kering

Kamis, 20 Agustus 2009

Di depan padang rumput hijau

Dan aku tak gila saat pepohonan berbisik, "Matilah, dan biarkan kami hidup"

Selasa, 18 Agustus 2009

Kereta terakhir di hari minggu

Sembari dikebiri pikiranku sendiri, impianmu berjalan mengawang-awang: Anak-anak kecil yang berlarian riang Mimpi-mimpi baru yang mendadak menjadi usang Kamu bius pikiranku dan saat itu aku berani bertaruh opium akan kehilangan singgasana Lalu kau berbicra tentang ini, ini, dan ini Aku bertanya,"Tak bisakah kau bicarakan tentang itu?" Kau berteriak-teriak kesetanan, "Itumu sudah lewat! Ia telah menjelma menjadi kereta terakhir di hari minggu!" Lantas kau buat aku menyesal mendengarmu mengoceh-merancau Ah sial, lagi-lagi aku harus tidur di masjid stasiun malam ini

Romantis berakhir tragis

Saya tahu saya sedang mencoba untuk romantis Walau tahu pujianku tak lebih mampu menimbulkan lebih dari senyum meringis Namun anda adalah objeknya Walau kadang mati ditabrak sebuah objek asing Lalu anda tertawa, entah menangis Ah tragis

Minggu, 16 Agustus 2009

Lagi-lagi

Ah lagi-lagi aku memikirkanmu Lalu melupakan bahwa semestinya aku sudah lupa Dan berandai-andai Andai saja kamu (masih mau) tahu

Kamis, 13 Agustus 2009

Sendiri di pojok kamar

Selamat malam bung Selagi anda sibuk melanglang buana Saya sibuk memandang terpesona Tapi membosankan memang memandang tembok putih yang tak pernah berubah Saat anak lain sibuk mengubah dunia, saya merasa diri saya tak berguna

Selasa, 11 Agustus 2009

Sabtu

Semua pada akhirnya kosong Lantas menghilang Maka tak bisakah kau membiarkan aku duduk tenang di bangku taman? Maaf aku memplagiatmu di hari sabtu semurni ini

Minggu, 09 Agustus 2009

Satu larik lagi

Kucoba rangkai kata-kata ini Untuk menjadi satu larik Kemudian satu larik lagi Satu larik lagi Satu larik lagi Satu larik lagi Kurang satu larik lagi Satu larik lagi

Sabtu, 08 Agustus 2009

Saat ini

Dalam hatiku ini saat ini Jujur, aku takkan bisa seromantis Sapardi Tak bisa juga meledak-ledak dengan indah Entah, semestinya aku kagum dengan Marcos Tapi aku mencintaimu, sederhana

Satu orang lagi

Satu orang lagi yang meninggal tak mengapa kan? Asal bukan dirimu sendiri

Pada akhirnya kau akan terbakar juga

Pada akhirnya Inspirasimu akan terbakar Lalu abunya kau panggil imajinasi Ampasnya kau panggil impian Tinggal kau sendiri yang berpikir "Yang mana yang karya seni?"