Sebelum nanti ia tertidur, lalu terbangun, lalu pergi lagi dan pulang.
Dan ia tidak harus selalu berada di kota yang sama, tidur di kasur yang sama, dan terbangun mengingat mimpi-mimpi yang sama. Demikian, suatu hari ia teringat akan sesuatu dan ia terlupa apakah itu mimpi atau ingatannya.
Dan ia berharap ia bukanlah impian dari seseorang. Siapa yang tidak takut jika tahi-tahu menghilang karena tak pernah diingat-ingat lagi.
Sayang ia bermuka dua. Setiap malam ia akan selalu bermimpi dan paginya terbangun sebelum melupakan segala tentang mimpi-mimpinya.
Tak pernah diingatnya wajah seseorang dalam tidurnya, jadi kalau dikatakan semua wajah tampak sama mungkin ada benarnya juga.
Apakah ia impian dari seseorang lain? Ia tak perlu tahu. Toh jika ia benar-benar lenyap, tak ada bedanya ia mengingat atau mengetahui tentang segala sesuatu.
Karena itu ia begini saja. Bekerja, pulang, tidur, dan terbangun. Tak pernah diceritakannya ketakutannya pada siapapun.