Kamis, 14 Juli 2016

Puisi selamat tinggal

Kita tak akan kemana-mana. 

Temanku tak akan lari dari rumah lalu tiba-tiba kembali pulang pada suatu lebaran menenteng seorang bayi yang konon adalah cucu orang tuanya. 

Temanmu tak akan meminum kopi murahan sambil bercengkrama dengan penjual buah yang kebetulan lewat sore hari. 

Kamu akhirnya mencintai dirimu, selamat. Kurasa itu alasan kenapa kita tak akan pernah bisa (bertemu). 

Aku bisa saja menyukaimu lantas kamu menyukaiku dan kamu akan menyukai seseorang yang benar-benar menyukaimu. 

Apakah itu sama dengan menyukai dirimu? 

(Aku tak tahu)

Puisi ini tidak akan baik tapi perlu untuk dituliskan. 
Dan jika kebetulan lewat suatu kejadian yang luar biasa kamu menemui dirimu membaca puisi ini dan merasa ini adalah puisi tentang dirimu, kamu akan selalu diterima untuk menyapaku setiap waktu. 

Aku tak tahu kapan kamu akan pergi ke altar, aku hanya berharap kamu akan selalu bahagia. Sungguh, tak ada lagi keinginan lain yang tersisa. 

Hidup tak pernah mau menunggu lama, tahu-tahu salah satu dan kemudian seluruh dari kita menjelma tua. 

Aku ingat pada suatu malam saat aku berpikir kamu adalah semua. Dan ketika pada pagi itu aku melewatimu dan melirik wajahmu dari spion motorku aku hanya mampu berpikir bahwa manusia selalu berubah. 

Aku berubah, kamu berubah, tak pernah ada salah. Semua hanya harus begitu, mau bagaimana lagi? 

Jadi, selamat tinggal!