Mungkin cara terbaik menulis puisi adalah sekedar menulis.
Tak ada yang mengetahui kenapa kata-kata keluar berurutan, hanya sekedar harus keluar.
Mungkin juga ingatanmu adalah bumbu yang paling baik. Mungkin juga andaikan kamu tak beringatan, puisi-puisimu akan menjadi lebih baik.
Mana ku tahu, aku tak pernah tak beringatan
Jumat, 18 Oktober 2013
Satu akar puisi
Kapan terakhir kali kamu menulis bung? Ah, mungkin kamu sudah lupa.
Tapi sekali-kali tidak akan menyakitimu jika mengingat bahwa huruf dan kata takkan hadir kecuali seseorang mengucapkannya.
Sedang puisi, sebaik-baik dan seburuk-buruknya tetap membutuhkan pikiran seseorang untuk sekedar hadir
Tapi sekali-kali tidak akan menyakitimu jika mengingat bahwa huruf dan kata takkan hadir kecuali seseorang mengucapkannya.
Sedang puisi, sebaik-baik dan seburuk-buruknya tetap membutuhkan pikiran seseorang untuk sekedar hadir
Kamis, 10 Oktober 2013
Setelah pulang
Setelah pulang, hanya ada foto dan lukisanmu terdiam di dinding kamar.
Sedang udara yang sempat kamu hembus di ruangan ini pelan-pelan sudah keluar lewat celah jendela dan pintu.
Sedang udara yang sempat kamu hembus di ruangan ini pelan-pelan sudah keluar lewat celah jendela dan pintu.
Minggu, 06 Oktober 2013
Ada yang berbeda
Ada yang berbeda dari dirinya yang sekarang dengan dirinya beberapa masa yang lalu. Ia tetap saja menulis dalam buta, entah siapa yang akan membacanya. Ada yang berbeda namun ia tetap saja memandang semu. Ia tak ingat apapun, ia ingat dirinya. Itu saja. Ia ingat mimpi-mimpinya dan betapa sadar bahwa ia yang sekarang tak pernah sedikitpun ada dalam pikirannya dulu. Dan kata-kata yang mengalir dari jemarinya, sejauh apapun berbeda ia tetap jujur dalam bercerita. |
Langganan:
Postingan (Atom)