Selamat malam, Ibu. Aku tak tahu harus menulis apa.
Aku tak tahu apakah rindu pernah berhasil dituliskan. Atau cinta. Atau rindu. Atau cinta. Atau cinta. Atau cinta.
Dan betapa sebenarnya aku amat mencintaimu, Ma. Betapa aku merindukan mendengar suaramu, caramu mengetuk pintu, menungguku dibawah tangga setiap pagi.
Betapa aku merindukan masakanmu. Aku merindukan senyummu.
Aku sebenarnya berencana untuk menulis tentangmu dalam waktu lama. Tapi aku bisa apa?
Aku selalu teringat atas darah. Aku teringat atas doa-doamu yang selalu kau rahasiakan. Aku merindukanmu untuk apa apa yang engkau lakukan dan tidak lakukan
Sabtu, 27 Oktober 2012
Jumat, 12 Oktober 2012
Dalam puisiku
Kuselipkan mendung dalam puisi-puisiku,
karena aku tahu kau mencintai hujan.
Alasan yang sama kenapa aku selipkan aku diantara puisi-puisiku.
karena aku tahu kau mencintai hujan.
Alasan yang sama kenapa aku selipkan aku diantara puisi-puisiku.
Minggu, 07 Oktober 2012
Puisi kedai kopi di senin pagi
Aku menunggu di kedai kopi dengan asap membumbung dimana-dimana
Aku kira udara sudah menjelma asap. Dan rindu sayup-sayup berubah menjadi cemburu
Aku benci setengah mati ketika Satpam yang berkali-kali menyuruhku menunggu di luar.
Aku tak bisa marah kepada satpam karena menyuruhku menunggu, karena akhirnya aku bisa menulis satu puisi disini.
Aku kira udara sudah menjelma asap. Dan rindu sayup-sayup berubah menjadi cemburu
Aku benci setengah mati ketika Satpam yang berkali-kali menyuruhku menunggu di luar.
Aku tak bisa marah kepada satpam karena menyuruhku menunggu, karena akhirnya aku bisa menulis satu puisi disini.
Bagaimana aku menulisnyá
Maafkan jika mungkin ada tembok di sekeliling kita. Kita tak pernah tahu harus membangun dimana dan darimana.
Panah di fotomu yang menunjuk ke atas. Oh Tuhan, aku tak tahu apa yang kutulis. Aku tak tahu apa. Aku tak tahu apa-apa!
Dan ini takkan pernah dapat berjalan. Aku bersumpah ini takkan pernah bisa berjalan. Aku mungkin bercanda tapi aku serius. Mungkin untuk sementara. Mungkin untuk selamanya. Tak ada yang tahu. Aku tak peduli. Tak ada yang peduli.
Siapa yang ingat tentang aturan dan ide?
Kita selalu benci untuk duduk berdua di kafe itu tapi selalu tertawa-tawa saat makan di kafe lain. Aku tahu dan mungkin kamu juga tahu. Apa bedanya apabila kamu tak tahu?
Aku berharap kita masih duduk berdua di dalam mobil, menyanyikan lagu lalu tertawa saat kita berdua lupa liriknya. Kau akan menertawakan selera musikku. Kau menghina monas. Kau menghina lawakanku. Aku memuji dirimu, cahaya, dan Dzat yang menciptakanmu.
Dan aku harap kamu tak menanyakan kenapa aku menulis ini. Aku tak tahu tulisan apa ini. Mungkin sekedar untuk menulis? Sedetik sebelum aku menulis puisi ini aku berdusta namun setidaknya aku tak berbohong saat menulis.
Panah di fotomu yang menunjuk ke atas. Oh Tuhan, aku tak tahu apa yang kutulis. Aku tak tahu apa. Aku tak tahu apa-apa!
Dan ini takkan pernah dapat berjalan. Aku bersumpah ini takkan pernah bisa berjalan. Aku mungkin bercanda tapi aku serius. Mungkin untuk sementara. Mungkin untuk selamanya. Tak ada yang tahu. Aku tak peduli. Tak ada yang peduli.
Siapa yang ingat tentang aturan dan ide?
Kita selalu benci untuk duduk berdua di kafe itu tapi selalu tertawa-tawa saat makan di kafe lain. Aku tahu dan mungkin kamu juga tahu. Apa bedanya apabila kamu tak tahu?
Aku berharap kita masih duduk berdua di dalam mobil, menyanyikan lagu lalu tertawa saat kita berdua lupa liriknya. Kau akan menertawakan selera musikku. Kau menghina monas. Kau menghina lawakanku. Aku memuji dirimu, cahaya, dan Dzat yang menciptakanmu.
Dan aku harap kamu tak menanyakan kenapa aku menulis ini. Aku tak tahu tulisan apa ini. Mungkin sekedar untuk menulis? Sedetik sebelum aku menulis puisi ini aku berdusta namun setidaknya aku tak berbohong saat menulis.
Satu detik
Satu detik lalu aku terbangun lantas bermimpi lagi
Apa jadinya kita jika yang tersisa hanya aku dan segelintir (ka)mu?
Apa jadinya kita jika yang tersisa hanya aku dan segelintir (ka)mu?
Senin, 01 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)